Turut Berduka

Innalillahi wainna ilaihi rajiun, Keluarga Besar PGRI Tolitoli mengucapkan duka mendalam atas meninggalnya Almarhumah Hj. Nuraeni Bantilan Ibunda Bapak Wakil Bupati Tolitoli pada hari ini, kamis 01 Juli 2021. Teriring doa semoga Almarhumah senantiasa mendapat pengampunan dari Allah swt dan seluruh amal kebaikannya diterima disisi Allah swt. Semoga keluarga yang berduka senantiasa diberikan kesabaran dalam menerima cobaan ini.

اَللهُمَّ اغْفِرْلَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَاَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرْدِ وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلاَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ وَاَبْدِلْهُ دَارًاخَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَاَهْلاً خَيْرًا مِنْ اَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَاَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَاَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَفِتْنَتِهِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ

Dear Sobatku PGRI

APA kabar? Semoga kabarmu baik juga kabar orang-orang yang kamu kasihi. Jika kabarmu baik dan orang-orang yang kamu kasihi juga baik kabarnya, bersyukurlah.

Ungkapan syukur itu bisa diwujudkan dalam upaya tetap disiplin dan lebih gigih menjaga kesehatan sebagai pijakan kabar baik kita.

Hari-hari ini, kabar baik tampaknya jauh dari pengalaman harian banyak orang, juga orang-orang yang mereka kasihi.

Di grup percakapan dan di media sosial, silih berganti kabar duka datang dari orang-orang yang kita kenal. Permohonan doa dan dukungan disampaikan untuk orang-orang yang dekat dengan kita.

Tidak lama kemudian, kabar duka dari pemohon doa disampaikan. Teman atau saudara yang sakit tidak tertolong lagi karena tidak tertangani.

Hening grup percakapan selain berurutan saling memberi ucapan duka dan doa untuk menguatkan dari kejauhan.

Beberapa teman saya menjauhi situasi yang menekan ini dengan menonaktifkan sementara grup percakapan dan juga media sosial. Mengambil jeda dan jarak dilakukan dengan sadar.

Dengan jeda dan jarak, apakah fakta tidak lagi ada?

Fakta tidak berubah dan tetap nyata adanya. Namun, fakta yang terjadi dan ada di luar kendalinya tidak menjadi beban pikiran. Fakta itu tidak sempat mampir ke pikiran apalagi menggangu jiwa.

Hari-hari teman saya menjadi lebih tenang. Mekanisme di dalam diri yang dipilih dengan sadar membantunya menghadapi situasi yang tidak mudah ini.

Bagaimana mekanisme dalam dirimu untuk menghadapi situasi tidak mudah hari-hari ini?

Alarm tanda bahaya sudah dibunyikan seminggu terakhir oleh banyak pihak yang memiliki otoritas. Makin kerap bunyi ambulans terdengar di sekitar kita.

Wisma Atlet di Kemayoran yang menjadi rumah sakit darurat Covid-19 mulai kewalahan. Pasien yang sudah membaik kondisinya meskipun masih positif, dipulangkan.

Ambulans bergantian datang tidak habis-habis. Wisma Atlet tidak mampu lagi menampung pasien kecuali pasien yang membaik kondisinya meskipun masih positif dipulangkan.

Wisma Atlet adalah gambaran. Di banyak tempat di Pulau Jawa, kondisi serupa kita dengar.

Untuk permintaan tolong mencarikan tempat perawatan intensif di rumah sakit, kita warga masyarakat pada umumnya tidak berdaya. Aparat negara demikian pula, dalam posisi tidak berdaya.

Karena itu, jika kabar kita baik, sehat begitu juga orang-orang yang kita kasihi bersyukurlah. Ungkapan syukur itu bisa dilakukan dengan tetap menjaga kesehatan agar tidak menambah beban rumah sakit.

Gambaran kondisi genting ini tergambar dari kisah Agus Rahmanto. Wakil Kepala Polres Jakarta Selatan ini akhirnya menangis lantaran gagal menyelamatkan nyawa warga yang tidak berdaya karena Covid-19.

Kamis, 24 Juni 2021, Agus hendak mengevakuasi Budi (59), warga Jagakarsa, Jakarta Selatan. Dengan masker dobel, pelindung mata dan keberanian, Agus dan tiga orang lain memberanikan diri menggotong dan mengeluarkan Budi dari rumahnya.

Agus tidak mengenal Budi yang telat mendapat pertolongan. Saat dievakuasi, Budi yang lemah kondisinya megenakan baju dan sarung saja. Ambulans yang dinanti-nantikan untuk mengevakuasi Budi ke rumah sakit tidak kunjung tiba.

Akhirnya ambulans tiba di kawasan yang separuh warganya terpapar Covid-19. Namun, sopir ambulans bertanya-tanya hendak di bawa ke mana dan akhirnya tidak jalan-jalan juga.

Agus berinisiatif memakai mobil Kijang milik warga yang dipinjamkan untuk membawa Budi. Budi dimasukkan ke dalam mobil Kijang lalu Agus mengemudikannya ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pasar Minggu sambil berkoordinasi.

Namun, upaya Agus dan beberapa orang lain tidak membawa hasil yang diharapkan. Budi tidak tertolong saat sampai di RSUD Pasar Minggu.  

Tubuh Budi yang sebelumya lemas terbujur kaku saat diturunkan dari mobil Kijang di lobi RSUD Pasar Minggu. Agus menangis di trotoar RSUD mendapati kenyataan ini.

Kisah Agus dan Budi adalah gambaran kita hari-hari ini. Upaya kita kerap berhadapan dengan keterbatasan dan ketidakberdayaan menghadapi realita.

Kita mendengar keluarga, saudara, teman, kawan atau kenalan meminta pertolongan dan bantuan. Sejumlah upaya kita lakukan. Banyak yang tidak bisa berbuat apa-apa juga. Ujung kisah mengharapkan keajaiban atau mengikhlaskan.

Pilu dan menyayat-nyayat perasaan. Kondisi memang sangat tidak memungkinkan. Karena itu, buat kamu yang masih sehat dan orang-orang yang kamu kasihi masih sehat, mari bersama-sama melandaikan kurva penularan.

Rumah sakit dan tenaga medis yang serba terbatas di benteng terkahir pertahanan perlu kita perkuat tidak justru membuat mereka makin kewalahan. Kondisi buruk yang menyesakkan ini jangan sampai tidak berkesudahan.

Minggu lalu, dua rekor berturut-turut terjadi untuk penambahan kasus Covid-19 di Indonesia. Minggu (27/6/2021), dilaporkan ada 21.342 kasus atau naik 247 kasus dari Sabtu (26/6/2021) sebanyak 21.095.

Total kasus Covid-19 yang dilaporkan hingga Minggu ini mencapai 2.115.304 orang terhitung sejak kasus pertama diumumkan pada 2 Maret 2020 lalu.

Varian Delta yang pertama kali teridentifikasi di India menjadi salah satu penyebab lonjakan kasus di Indonesia. Varian Delta didapati sangat mudah menular dan lebih berbahaya dibandingkan varian lainnya.

Kepala petugas Kesehatan Queensland, dr Jeannete Young menyebut, varian Delta ini dapat menular melalui kontak dengan durasi sekitar 5 hingga 10 detik saja.

Mari kita mengenali gejalanya agar kita lebih waspada dan tahu harus berbuat apa di tengah keterbatasan fasilitas kesehatan saat ini.

Mereka yang terpapar varian Delta memiliki beberapa gejala umum seperti sakit perut, selera makan hilang, mual, nyeri sendi, gangguan pendengaran, sakit kepala, sakit tenggorokan, demam.

Berbeda dengan yang kita ketahui sebelumnya, batuk dan kehilangan penciuman merupakan gejala awal yang jarang terjadi untuk mereka yang terpapar varian Delta.

Dengan menerapkan disiplin protokol kesehatan, upaya kita untuk melandaikan kurva jika mampu adalah meminimalkan mobilitas dan aktivitas di luar rumah.

Setidaknya ada enam tempat yang perlu dihindari agar tidak memasukkan kita dalam bahaya itu. Hindari kedai tempat makan dan minum, gedung konser dan tempat ibadah, transportasi umum, pasar, sekolah dan tempat kerja atau kantor.

Sambil kita berupaya disipilin dengan protokol kesehatan, kita dorong dan pastikan orang-orang di sekitar kita untuk mendapatkan vaksin saat siap dan tersedia. Jangan ditunda-tunda jika kesempatannya terbuka.

Kabar baik untuk vaksinasi adalah kemampuan tenaga medis kita melakukan vaksinasi lebih dari satu juta dalam sehari.

Di saat rekor penambahan kasus positif Covid-19 terjadi, pada Sabtu (26/6/2021), vaksinasi Covid-19 di Indonesia menembus 1,3 juta orang.

Target yang ditetapkan Presiden Joko Widodo soal satu juta vaksinasi Covid-19 per hari tercapai lebih awal dan jadi harapan untuk melawan pandemi.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, per 26 Juni 2021, vaksinasi dosis pertama telah dilakukan pada lebih dari 27 juta orang dan vaksinasi dosis kedua lebih dari 13 juta orang.

Target vaksinasi satu juta per hari dicapai berkat usaha dari berbagai pihak terutama TNI/Polri, pemerintah daerah, BUMN dan pihak swasta yang turut membantu.

Kemenkes menghapus syarat KTP domisili bagi peserta vaksinasi Covid-19. Ketentuan vaksinasi Covid-19 bebas KTP domisili ini berlaku di seluruh pos pelayanan vaksinasi saat vaksinya tersedia.

Kabar baik berikutnya adalah mereka yang belum memiliki KTP alias anak-anak usia 12-17 tahun juga mendapat izin untuk vaksinasi. Seperti kita ketahui, 1 dari 7 kasus positif Covid-19 di Jakarta adalah kasus pada anak-anak.

Pemberian vaksin Sinovac untuk anak usia 12 tahun telah direkomendasikan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Rekomendasi penggunaan vaksin Sinovac untuk anak usia 12-17 tahun tertuang dalam surat BPOM yang dialamatkan kepada PT Bio Farma.

Surat rekomendasi itu dikeluarkan berdasarkan hasil rapat dengan Komite Nasional Penilai Khusus Vaksin Covid-19 yang diselenggarakan pada 26 Juni 2021.

Dalam surat yang dikeluarkan pada 27 Juni 2021 itu, BPOM menuliskan sejumlah pertimbangan hingga akhirnya vaksin itu dapat digunakan untuk anak usia 12-17 tahun.

Presiden Jokowi bersyukur atas izin penggunaan darurat atau emergency use authorization untuk vaksin Sinovac bagi anak usia 12 sampai 17 tahun. Ia minta agar vaksinasi anak-anak usia 12-17 tahun segera dimulai.

Bersamaan dengan itu, Presiden juga minta upaya pencapaian terget angka 1 juta suntikan vaksin per hari konsisten terjadi mulai Juli 2021.

Bersama upaya-upaya baik di tengah situasi yang tidak mudah ini, sediakan dirimu dan ajak orang-orang di sekitarmu untuk vaksin. Segera. Jangan ditunda-tunda saat siap dan vaksinya tersedia

Salam sehat

Mungkinkah Belajar Tatap Muka Dilaksanakan di Tolitoli?

Muliadi, M.Pd

Kebijakan pemerintah dibidang pendidikan ditengah pandemi covid-19 yang belum meredah, nampaknya belum banyak berubah. Proses pembelajaran tatap muka belum akan menjadi pilihan. Analisis ini semakin menguat, ketika pemerintah provinsi Sulawesi Tengah mengeluarkan edaran gubernur nomor : 443/545/dinkes tertanggal 28 Juni 2021 tentang PPKM berbasis mikro.

Harapan untuk melaksanakan pembelajaran normal sebagaimana diharapkan banyak pihak sepertinya belum dapat diwujudkan, terutama untuk wilayah Kabupaten Tolitoli. Hal ini dikuatkan oleh kondisi obyektif perkembangan covid-19 di Kabupaten Tolitoli yang diduga tengah memasuki gelombang kedua. Dari data yang dilansir oleh juru Bicara SATGAS PENANGANAN COVID-19 tanggal 28 Juni 2021 dapat dikatakan Tolitoli tidak berada pada kategori aman., mengingat tingkat perkembangan penderita covid-19 di Tolitoli sedang mengalami trend kenaikan. Melihat fenomena yang kurang baik ini, pesimis rasanya pembelajaran tatap muka normal dapat segera dilaksanakan. Jika dipaksakan, maka lonjakan penularan covid-19 di Kabupaten Tolitoli bisa saja makin tidak terkendali.

Lalu apakah pembelajaran tahun ajaran baru 2021/2022 harus kembali pada pola pembelajaran daring? jika membaca fenomena yang ada sepertinya pola daring belum dapat dilepaskan begitu saja, meskpun sejumlah pihak meragukan efektivitasnya. Andaikan pun pelaksanaan tatap muka tetap dilaksanakan, maka hal ini juga tidak dapat dilakukan secara penuh. Sehingga tepatlah jika pemerintah memberikan alternatif dengan pola pembelajaran tatap muka terbatas. Menurut kemendikbud pola tatap muka terbatas dapat dilakukan dengan ketentuan sbb:

  1. Hanya boleh dua hari seminggu
  2. Hanya boleh 2 jam sehari, dan
  3. Hanya 25% dari jumlah siswa

Permasalahannya kemudian bagaimana mengelola waktu yang terbatas agar tetap optimal dan dapat dimanfaatkan secara efektif untuk mengelola proses pembelajaran. Hal ini menjadi tantangan yang tidak mudah bagi tim pengelola kurikulum. Jika sedikit berandai-andai, misalnya dalam satu kelas ada 36 siswa dengan jumlah mapel sebanyak 14 (contoh SMK). Maka dari ketentuan di atas berarti hanya 9 siswa per kelas yang boleh mengikuti tatap muka selama 2 jam pelajaran. Jika 2 jam pelajaran tersebut distribusikan pada 2 mata pelajaran setiap hari, artinya sehari masing-masing pelajaran hanya memperoleh 1 jam pelajaran. Waktu 1 jam normal tentu tidak cukup jika guru bermaksud memanfaatkannya hanya untuk menjelaskan materi. Jika pendekatan ini yang dipilih, maka kemungkinan efektivitasnya tidak akan tercapai, mengingat tuntutan kurikulum relatif banyak. Belum lagi soal cara mendistribusikan waktu yang terbatas pada semua mata pelajaran (untuk SMK).

Jika kita mencoba menganalisis permasalahan di atas, maka paling tidak terdapat 5 hal yang harus dipikirkan dan dipertimbangkan sebagai solusi terbaik dalam mengelola proses pembelajaran di masa pandemic ini. 4 hal tersebut adalah:

  1. Bagaimana muatan kurikulum (kepadatan materi) yang akan disampaikan
  2. Bagaimana cara mengalokasikan waktu tatap muka kepada setiap mata pelajaran
  3. Apa yang harus dilakukan dengan waktu tatap muka yang terbatas (Menyampaikan materi, melakukan konfirmasi, memberikan penguatan, dll)
  4. Apakah diperlukan pembelajaran daring selain tatap muka
  5. Bagaimana memadukan daring dan luring (blended learning)

Nah, kelima hal diatas sudah semestinya menjadi bahan diskusi untuk menemukan solusi sebelum benar-benar memasuki proses pembelajaran. Rencana yang baik setengah dari keberhasilan, oleh karena itu pimpinan sekolah seharusnya sudah memiliki rencana terbaik untuk melaksanakan proses pembelajaran pada tahun ajaran baru.

Pengalaman terdahulu harusnya menjadi pelajaran bagi kita semua bagaimana menangani proses pembelajaran dimasa pandemi agar lebih baik dari sebelumnya. Bukankah orang bijak mengatakan “pengalaman itu adalah guru yang paling berharga”. Jangan sampai kita terus mengulangi kesalahan yang sama, yang pada akhirnya akan merugikan siswa kita sendiri.

Apapun situasi dan kondisi yang kita hadapi saat ini, patut dijadikan sebagai tantangan (challenge) untuk menguji seberapa besar dedikasi kita pada pendidikan. Kompetensi dan keterampilan kita sebagai guru sampai kapanpun akan terus diuji oleh zaman. Oleh karena itu, kita tidak boleh stagnan, berdiam diri apalagi bersikap masa bodoh. Belajar dan terus belajar adalah jalan menuju solusi atas tantangan pekerjaan kita sebagai guru.

Jika dicermati situasi yang akan dihadapi dalam proses pembelajaran tahun ini masih akan menerapkan pembelajaran daring. Kalaupun ada pembelajaran tatap muka terbatas, hal ini tidak dapat memberikan banyak ruang bagi guru dan siswa untuk menyelesaikan tugas pembelajaran. Oleh karena itu, pembelajaran blended learning sepertinya menjadi strategi yang paling efektif menghadapi situasi saat ini.

Blended learning adalah gabungan pembelajaran daring dan luring. Jika pembelajaran blended learning yang akan dilaksanakan, maka kita tentu harus memiliki kemampuan untuk mengaplikasikan media daring. Mungkin kita selama ini telah memanfaatkan banyak media daring seperti goglemeet, zoom, teams, google classroom, dll. Namun penggunaan media tersebut belum sepenuhnya memberikan kemudahan pada guru dan siswa mengekspresikan proses pembelajaran sehingga terasa seperti di kelas reguler. Beberapa guru tentu berharap dapat memberikan contoh atau menjelaskan dengan cara menulis atau menggambar seperti layaknya dipapan tulis, tetapi hal ini tidak mudah lakukan. Dibutuhkan aplikasi khusus yang dapat digunakan guru untuk menyampaikan materi seperti layaknya di kelas reguler dimana interaksi siswa guru benar-benar dapat diwujudkan.

Nah, agar pembelajaran kita lebih menarik dan mengajar seperti pada ruang kelas reguler, mungkin ada baiknya kita mengikuti workshop pembelajaran daring dengan media interaktif yang powerfull.

Anda dapat mendaftar : melalui link ini: https://forms.gle/6fvkfMTVPPH38pNq7

Apa setelah Konkerkab I PGRI Tolitoli?

Kegiatan monumental Konferensi Kerja Kabupaten PGRI Tolitoli tahun 2021 baru saja berakhir. Konkerkab yang dilaksanakan selama 2 hari dari tanggal 5 s.d 6 juni 2021 ini telah menghasilkan sejumlah keputusan penting berupa rekomendasi dan program kerja PGRI Tolitoli pada periode tahun 2021.

Pertanyaannya sekarang, apa yang harus dilakukan setelah Konkerkab? apakah konkerkab yang demikian seruh, heboh, dan bahkan cenderung emosional itu harus berakhir begitu saja tanpa tindak lanjut? haruskah kita mau terus-menerus terjebak pada eforia konferensi tanpa mampu mewujudkan amanat konferensi secara konsisten? maukah kita disebut hanya rame ketika konferensi dan melempem ketika pasca konferensi?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut sudah saatnya mengubah pola pikir dan prilaku kita sebagai pengurus PGRI jika kita ingin membawah PGRI menjadi organisasi yang kuat dan bermartabat, sebagaimana tema Konkerkab kita yaitu “”Membangun kesadaran dalam berorganisasi untuk mewujudkan PGRI yang kuat bermartabat demi terwujudnya pendidikan yang bermutu”. Tema merupakan spirit yang menggambarkan suasana kebatinan, cita-cita, dan mimpi, jadi sifatnya abstrak. Oleh karena itu tema baru akan bermakna jika tema tersebut dapat diwujudkan secara nyata (konkret) dalam bentuk tindakan, sikap dan prilaku anggotanya.

Dengan demikian menjadi penting untuk menerjemahkan tema kedalam bentuk prilaku nyata. Jika kita cermati tema konkerkab di atas, maka dapat kita lihat beberapa kata kunci yang menjadi trigger , pelatuk atau pemicu motivasi kita, yaitu”” kesadaran berorganisasi, kuat dan bermartabat, dan pendidikan bermutu”.

Kesadaran berorganisasi (Organization Awareness) adalah kemampuan untuk memahami dan mempelajari kekuasaan dalam organisasi sendiri maupun organisasi lain (pelanggan, penyalur, dll.). Termasuk didalamnya kemampuan untuk mengidentifikasi siapa pengambil keputusan yang sebenarnya dan individu yang memiliki pengaruh kuat. Dari pengertian ini dapat maknai bahwa kesadaran berorganisasi adalah kemampuan individu mengenal organisasinya serta fungsi-fungsi didalamnya sehingga individu tersebut dapat memberikan perannya secara optimal sesuai tupoksi yang menjadi tanggungjawabnya.

Dalam hal ini , maka pengurus yang memiliki kesadaran berorganisasi akan selalu berusaha semaksimal mungkin melaksanakan tanggungjawabnya sebagai pengurus dengan berpedoman pada amanah dan hasil konferensi yang telah disepakati. Pengurus yang memiliki kesadaran berorganisasi dapat diidentifikasikan sebagai pengurus yang penuh inisiatif dan kreatifitas. Pengurus yang seperti ini umumnya berpikiran progresif, penuh dedikasi, dan selalu termotivasi untuk segera melaksanakan program dan kegiatan yang menjadi tanggungjawabnya. `

Sementara itu, kuat dan bermartabat adalah kata kunci penting yang merefresentasikan profil PGRI yang dicita-citakan. Kekuatan organisasi menurut Widadi dipengaruhi oleh tingginya solidaritas anggota dan pengelolaan organisasi secara professional, akuntable, dan mandiri serta tata kelola keuangan yang kuat dan mampu memberi dukungan untuk perkembangan tugas secara professional. Nah, berdasarkan asumsi ini maka apa yang telah dilakukan oleh PGRI Tolitoli dengan melaksanakan kegiatan “”diklat penguatan kepemimpinan“” dan “”diklat pengelolaan keuangan“” merupakan bagian dari upaya nyata untuk menjadikan PGRI kuat dan bermartabat. Tetapi sayangnya, pelaksanaannya terkesan kurang optimal sehingga hasilnya juga menjadi kurang maksimal. Menyikap hal ini , PGRI Tolitoli harus terus mendorong agar pelaksanaan kegiatan PGRI pasca konkerkab harus terus berjalan sesuai rencana kerja yang dibuat.

Secara etimologi martabat adalah tingkat harkat kemanusian atau harga diri. Jadi martabat organisasi berarti tingkat harkat atau harga diri organisasi. Menurut Widadi, bahwa kemartabatan organisasi ditentukan oleh professionalitas anggota dan berperilaku sesuai kode etik serta kemampuan organisasi memberi dorongan, dukungan dan fasilitasi terhadap guru-guru dalam meningkatkan profesionalitas dan mentaati kode etik. Dengan demikian, jika PGRI ingin menjadi organisasi yang bermartabat, maka PGRI harus mampu berbuat secara nyata mewujudkan profesionalitas anggota, berprilaku sesuai kode etik, serta mampu memfasilitasi anggotanya (terutama guru) dalam meningkatkan profesionalitasnya. (tunggu lanjutannya)

Hasil Rapat Persiapan Konkerkab I PGRI Tolitoli masa bakti XXII

Waktu PelaksanaanSabtu-minggu, 5-6 Juni 2021
TempatGedung Guru Indonesia PGRI Tolitoli
Jl. Sona No.86 Dinopi Kel. Nalu
Agenda Konkerkab1. Laporan pelaksanaan program kegiatan, pendapatan dan belanja organisasi selama satu periode
2. Menetapkan dan mengesahkan program kerja PGRI Kabupaten untuk tahun 2021
3. Menetapkan dan mengesahkan RAPBO PGRI Kabupaten untuk tahun 2021
4. Menetapkan, mengesahkan, dan melantik PAW hasil resufhel pengurus PGRI Kabupaten
5. Melaksanakan Diklat Kepemimpinan PGRI
6. Melaksanakan Diklat Pengelolaan Keuangan PGRI
7. Lain-lain yang dianggap perlu
Peserta KonkerkabBerdasarkan AD/ART bab XXXIV Pasal 106 peserta konkerkab sebagai berikut:
1. Seluruh pengurus Kabupaten (20 orang)
2. Utusan Pengurus Provinsi (1 orang)
3. Utusan pengurus Cabang (disepakati 5 orang/cabang, boleh ditambah, asumsi 50 orang)
4. Dewan Pembina Kabupaten (1 orang)
5. Utusan Pengurus Perempuan PGRI (1 orang)
6. Peninjau dan undangan yang diundang oleh pengurus Kabupaten (maksimal 5 orang)
Kontribusi PesertaRp. 100.000,-/hari/orang