Simulasi Asyik

Masalah sudah menjadi bagian dari kehidupan. Yang diperlukan setiap orang: bagaimana segera menemukan solusi atau pemecahan dari masalah tersebut.

Dalam praktiknya tidak semua solusi menjadi pemecahan masalah terbaik. Apalagi jika masalah itu adalah masalah yang kompleks dan melibatkan banyak pihak.

Untuk itu diperlukan tahapan dan strategi pemecahan. Nah, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah merumuskan program pemecahan masalah dengan prosedur tertentu dengan memanfaatkan lembar dialog.

Lembar dialog adalah instrumen pendukung dalam pemecahan masalah, bukan syarat utama. Instrumen ini digunakan dalam forum Lingkar belajar guru (LBG) sebagai alat bantu dalam membiasakan diri merumuskan masalah dan pemecahannya secara sistematis. Selain itu, dengan lembar dialog, semua ide dan gagasan akan terdokumentasi. LBG sendiri adalah forum diskusi yang dirancang sedemikian rupa untuk mengakomodir berbagai permasalahan anggota organisasi dan berupaya menemukan pemecahan masalahnya.

LBG awalnya dikembangkan oleh guru-guru dari Norwegia. Kemudian diadopsi oleh PGRI karena melihat manfaatnya. Dalam hal ini Persatuan Guru Norwegia dan PGRI tergabung dalam Education Internasional (EI) bersama dengan beberapa persatuan Guru dari negara lainnya.

Strategi pemecahan masalah yang dikembangkan dalam forum LBG sepintas terlihat sederhana. Namun dalam praktiknya, peserta sering kali mengalami kesulitan, terutama dalam mengisi lembar dialog yang digunakan.

Bagaimanapun pengalaman dari masing-masing personil berperan dalam memuluskan kegiatan pemecahan masalah dengan memanfaatkan lembar dialog. Untuk memperoleh pengalaman itu personil yang terlibat perlu melakukan simulasi pemanfaatan lembar dialog.

Simulasi inilah yang dilakukan oleh peserta LBG provinsi Sulawesi Tengah. Seperti sudah saya tuliskan sebelumnya, peserta LBG terdiri dari pengurus kabupaten dan pengurus cabang dari tiga kabupaten, yaitu Palu, Poso, dan Tolitoli.

Tentu dari simulasi ini diharapkan peserta LBG memperoleh pengalaman yang akan dibawah pulang dan diimplementasikan di cabang masing-masing. Bukan NATO kata pak Syam, no action talk only atau OMDO omong doang.. He.. He. Kalau hanya NATO itu juga masalah, dan justru itulah yang harus di selesaikan.

Menurut bu Desry, beliau ini perwakilan EI di Indonesia, Lembar dialog tidak mandatori. Namun lembar dialog ini dapat membantu anggota organisasi merumuskan permasalahan secara sistematis. Lebih penting lagi pemecahan masalah dengan pendekatan ini sangat partisipatif. Sehingga setiap peserta terlibat aktif dan bertanggung jawab atas pemecahan masalah dan program yang direncanakan.

Wassalam

Konkerprov ke-2 di Morut

Konferensi kerja provinsi ke-2 PGRI Sulawesi Tengah tahun 2022 dilaksanakan di Kabupaten Morowali Utara. Kota Kolonedale menjadi tempat pelaksanaan dari tanggal 13 s.d 15 Juli 2022. Sebuah kota yang unik, di kelilingi oleh pegunungan yang cukup tinggi, berhadapan langsung dengan teluk yang lebih mirip sebuah danau jika di pandang dari arah kota. Tidak terlihat pintu keluar teluk saat kita berdiri di sisi kota dekat laut (atau teluk). Namun sebenarnya pintu keluar yang menghubungkan kota kolonedale dengan daerah lain, seperti luwuk terletak di bagian utara kota ada disisi utara kota..

Unik memang, karena meski kota ini terletak di pesisir teluk, tetapi tidak memiliki pantai seperti layaknya kota di pinggir laut pada umumnya. Rumah-rumah penduduk berdiri di atas rawah-rawah bekas area hutan bakau (manggrove). Sebagian perumahan penduduk dan kantor-kantor Pemerintah dibangun di area pegunungan sehingga menyajikan pemandangan yang khas dan indah. Kota kolodale tidak luas, bahkan terkesan sempit. Bentangan dari utara ke selatan saya perkirakan kurang dari 3 km. Sedangkan dari arah barat ke timur mungkin kurang dari 1 km.

Namun Pemerintah daerah yang baru mekar ini sungguh luar biasa, terutama dalam merespon kehadiran PGRI pada pelaksanaan konkerprov ke-2. PGRI diiizinkan melaksanakan kegiatan di gedung Pola Kantor Bupati Morut. Dukungan Bupati bukan hanya disampaikan secara lisan, tetapi dipertegas dengan dukungan tertulis. Sehingga pelaksanaan konkerprov benar-benar berjalan hikmat dan lancar.

Pada kegiatan konkerprov ke-2 tahun 2022 ini, PGRI Kabupaten Tolitoli mengirimkan 5 orang yang terdiri dari 4 utusan PGRI Kabupaten, dan 1 utusan PGRI Cabang. Utusan PGRI Kabupaten di wakili oleh Sekertaris PGRI Kabupaten, Bendahara, Sekretaris Bidang, dan Wakil ketua PGRI. Pada kesempatan ini ketua PGRI Tolitoli tidak hadir karena kurang sehat. Sementara utusan PGRI Cabang diikuti oleh Bendahara PGRI Kecamatan Baolan.

Acara Konkerprov ke-2 dibuka oleh Ketua umum PB PGRI Prof. Dr. Unifa Rosyidi serta diisi oleh para pemateri dari unsur Forkopinda pemerintah Daerah Morowali, Kementerian agama provinsi Sulteng, dan Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Tengah. Dari unsur Forkopinda Pemda Morowali Bupati Morowali Utara Bapak Dr. dr Delly memberikan sambutan sekaligus paparan materi terkait profil Kabupaten Morowali, diantaranya soal beasiswa bagi seluruh Mahasiswa yang berasal dari Kabupaten Morowali. Tanpa seleksi, dan tanpa memandang status sosial. APBD Morowali memang terbilang besar karena mencapai 1,5 triliun rupiah. Terbilang besar untuk ukuran Pemda di Sulteng, apalagi jika dibandingkan dengan APBD Tolitoli yang hanya mencapai -+ 750 milyar rupiah.

Seperti biasanya, konkerprov selalu menyelipkan agenda pemberian penghargaan kepada pengurus PGRI Kabupaten yang mampu mengelola keuangan organisasi. Tolitoli kali ini kembali meraih penghargaan itu. Penghargaan ini mengikuti penghargaan yang sama yang telah diperoleh oleh PGRI Kabupaten Tolitoli di ajang konkernas ke-2 di Yogyakarta.

Namun dibalik penghargaan itu, pengurus PGRI Kabupaten Tolitoli masa bakti XXII Tahun 2020-2025 tidak cukup berpuas diri. Bagaimanapun juga, dibalik keberhasilan mengelola keuangan yang sumbernya dari iuran anggota itu, terdapat amanah yang cukup berat yaitu : mengembalikan nilai iuran dalam bentuk kegiatan bermakna baik dalam lingkup ketenakerjaan, keprofesian, maupun keorganisasian.

PGRI akan menjadi kuat, independen, demokratis, dan sinambung (KIDS) jika kewajiban dan tanggungjawab dari masing-masing pihak dapat berjalan sebagaimana mestinya. Anggota disiplin dan ikhlas membayar iuran, sementara pengurus PGRI amanah merancang dan melaksanakan berbagai kegiatan yang berpihak pada anggota.

PERAN PGRI DALAM KONTEKS PELAYANAN PUBLIK

Persatuan Guru Rebublik Indonesia Kabupaten Tolitoli menyelenggarakan Konferensi Kerja Kabupaten ke II PGRI tahun 2022 yang dibuka secara resmi Bupati Tolitoli diwakili Sekretaris Daerah Kabupaten Tolitoli Moh. Asrul Bantilan, S.Sos Sabtu 14 Mei 2022 pukul 09.00 – selesai di Sekretariat PGRI di Nopi Kelurahan Nalu Kecamatan Baolan Kabupaten Tolitoli.

Pada kesempatan itu Sekretaris Daerah Kabupaten Tolitoli Moh. Asrul Bantilan S.Sos dalam membacakan sambutan tertulis Bupati, mengatakan bahwa konferensi kerja PGRI merupakan kesempatan yang baik bagi seluruh pengurus dan anggota PGRI Tolitoli untuk melakukan evaluasi kegiatan organisasi yang sudah dilakukan selama ini.

Menurut beliau suksesnya pembangunan pendidikan di Kabupaten Tolitoli ini tidak lepas dari kerja keras organisasi Persatuan Guru Republik Indonesia. Peran PGRI sebagai wahana persatuan dan kesatuan guru menjadi salah satu muara pelayanan publik khususnya di bidang pendidikan. Oleh sebab itu, PGRI diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi tumbuh kembangnya kualitas Sumber Daya Manusia.

Melalui konferensi ini PGRI juga diharapkan dapat memberikan masukan yang dapat mendorong kemajuan organisasi sekaligus dapat merumuskan kebijakan yang mengarah pada peningkatan kesejahteraan seluruh anggota masyarakat. Olehnya itu menurut SEKAB dedikasi dan pengabdian guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, perlu terus ditingkatkan agar semakin profesional kompetitif dan berdaya saing.

Sekretaris Daerah Kabupaten mengharapkan kepada seluruh jajaran lembaga pendidikan utamanya para pendidik agar meningkatkan peran strategis dan selalu siap membangun karakter anak bangsa. Sudah semestinya guru selalu meningkatkan perannya dalam membina sekaligus menjadi suri tauladan yang baik bagi peserta didiknya. Guru juga diharapkan mampu memberikan inspirasi kepada berbagai pihak tentang pentingnya peran strategis pendidikan untuk membangun karakter anak bangsa di negara ini khususnya di Kabupaten Tolitoli.

Turut hadir dalam Konferensi kerja kabupaten II PGRI Tolitolui, Wakil Ketua PGRI Provinsi Sulawesi Tengah, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tolitoli, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tolitoli, Ketua dan anggota PGRI Kabupaten Tolitoli, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Menengah Wilayah VI Tolitoli dan Buol dalam hal ini di wakili oleh KTU, Koordinator Wilayah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan se Kabupaten Tolitoli, Ketua PGRI Kecamatan se Kabupaten Tolitoli.

Foto Bersama Tamu Indangan Konkerkab II PGRI Tolitoli Tahun 2022

Acara pembukaan konkerkab ini di awali dengan menyanyikan lagu indonesia raya, mars PGRI, dan patriot baolan. Meskipun relatif sederhana, namun pelaksanaan acara pembukaan penuh dengan suasana keakraban dan optimisme dalam melahirkan berbagai keputusan kokerkab yang bermakna bagi organisasi, anggota PGRI, masyarakat, maupun terhadap pemerintah daerah.

(Tim Liputan Bagian Prokopim Setdakab Tolitoli)

PGRI Tolitoli diajang Konkernas III PGRI

Setelah sempat tertunda kurang lebih satu bulan dari rencana awal pelaksanaan konkernas III PGRI, akhirnya konkernas yang cukup spektakuler ini dapat berlangsung dengan khidmat pada tanggal 21 s.d 23 Maret 2022 di Hotel Rich Yogyakarta. Cukup spektakuler karena pada moment yang sangat penting itu selain dihadiri oleh ribuan peserta konkernas dari seluruh Indonesia, juga terdapat kejutan-kejutan yang menggambarkan eksistensi PGRI sebagai organisasi yang bekerja dan mengabdi untuk memajukan organisasi dan anggotanya dalam bidang teknologi digital.

Tanggapan PGRI Sulteng Atas LPJ PB PGRI

Diajang konkernas III ini untuk pertamakalinya PGRI menggunakan aplikasi “pasopati” atau PGRI application for sharing organising and programming association technical information. Aplikasi hasil karya pakar digital PGRI ini berfungsi sebagai alat pendeteksi potensi penularan covid-19. Cara kerjanya dengan cara mengarahkan pembaca QRC ke QRC yang disediakan lokasi konkernas, maka aplikasi akan memberikan respon apakah anda memiliki potensi penularan atau tidak. Tapi sebelumnya anda harus menginstal dulu aplikasi pasopatinya.

Aplikasi Pasopati PGRI

Saya sendiri dan pak Gafar sebelumnya tidak mengerti maksud keberadaan QR code yang terletak di lobi hotel The Rich Jogjakarta. Namun setelah bertanya ke beberapa peserta konferensi kami menjadi tahu maksudnya untuk apa. Saya mengundu aplikasinya tapi saya tidak sempat menggunakan.

Prof Eko Indradjit Pencipta Aplikasi Pasopati PGRI

Saya beruntung bisa bertemu prof Eko sebagai pembuat aplikasi pasopati. Prof Eko selain sebagai Ketua Smart Learning and Character Center (SLCC) PGRI beliau juga seorang penulis yang handal. Sebagai pakar IT, beliau banyak menulis tentang teknologi digital. Di kelas menulis PGRI saya beruntung pernah diberi kesempatan untuk menulis buku bersama. Sayang sampai saat ini bukunya belum juga berhasil di wujudkan.Prof Eko juga banyak berbagi pengetahuan dan pengalamannya tentang teknologi.

Bersama Om Jay dan Bu Kanjeng (Narasumber Kelas Menulis PGRI)

Konkernas III PGRI di Jogyakarta tidak hanya memberi kesempatan kepada pengurus PGRI Tolitoli untuk berpatisipasi dalam merumuskan program PGRI tahun 2022. Namun lebih dari itu menjadi kesempatan yang langkah karena kami dapat bertemu, berdiskusi serta berbagi cerita menarik dengan para pakar menulis yang dimiliki oleh PGRI, seperti Om Jay atau Wijaya Kusuma. Om Jay sendiri di kenal sebagai Founder grup belajar menulis PGRI sekaligus narasumber menulis nasional diberbagai ajang pelatihan. Sementara Bu Kanjeng atau Ibu Sugiastuti adalah seorang kepala sekolah SMK yang sangat rajin menulis. Di grup kelas menulis bahkan bu Kanjeng di kenal karena keaktifan beliau dalam menggas terbitnya buku-buku karya bersama atau antologi.

Registrasi dan Verifikasi Keanggotaan PGRI

Muliadi, S.Pd.,M.Pd (Sekretaris PGRI Tolitoli)

Saat ini PB PGRI telah mengembangkan setidaknya 3 aplikasi web untuk mendukung sistem pengelolaan dan pelayanan anggota PGRI di seluruh tanah air, mulai dari tingkat ranting, cabang, sampai PB. Aplikasi tersebut terdiri dari SIK, SIP, dan ASIK.

SIK adalah sistem keanggotaan PGRI yang berfungsi sebagai aplikasi pengelolaan keanggotaan PGRI, baik anggota baru maupun anggota lama. Sebagai aplikasi baru, implementasi SIK sudah pasti memerlukan penyesuaian-penyesuaian, terutama yang berkaitan dengan migrasi data dari aplikasi lama ke aplikasi SIK yang baru.

Dengan diterapkannya SIK, maka secara otomatis pengelolaan keanggotaan pada tahap awal ini akan terbagi dalam dua kelompok, yaitu kelompok anggota PGRI yang telah memilik NPA dan kelompok calon anggota baru yang notebene belum memiliki NPA.

Kedua kelompok ini, sama-sama tidak bisa secara otomatis masuk ke dalam sistem SIK. Diperlukan beberapa tahapan yang disebut tahapan verifikasi NPA dan tahapan registrasi keanggotaan.

Verifikasi NPA diperlukan oleh anggota lama yang telah memiliki NPA. Verifikasi tersebut diperlukan agar anggota yang telah memiliki NPA dapat memperoleh akun pribadi di SIK dengan kode masuk email dan password. Dengan email dan password pribadi, pemilik NPA baru dapat mengelola sendiri data pribadinya seperti melengkapi data, melakukan update data pribadi, mengecek iuran yang telah dibayar, permohonan mutasi, dan lain-lain. Berikut ini contoh halaman depan akun pribadi dalam aplikasi SIK.

Contoh Halaman akun pribadi

Untuk melakukan verifikasi NPA anggota PGRI harus masuk ke aplikasi melalui link ini https://newsik.pgri.or.id/register/old kemudian melengkapi data yang diperlukan. Berikut halaman depan laman verifikasi NPA.

Halaman verifikasi NPA

Bagi anggota baru atau calon anggota baru, dapat melakukan pendaftaran atau registrasi keanggotaan melalui link ini https://newsik.pgri.or.id/register/new Calon anggota yang telah melakukan registrasi tidak dapat langsung memperoleh NPA. Diperlukan restu atau verifikasi dari admin. Verifikasi keanggotaan dapat dilakukan oleh admin kabupaten atau admin cabang. Setelah proses verifikasi barulah calon anggota PGRI resmi menjadi anggota PGRI dan berhak memperoleh NPA. Berikut halaman depan registrasi anggota melalui SIK.

Halaman registrasi anggota baru

Demikian proses registrasi dan verifikasi NPA pada aplikasi SIK. Verifikasi NPA sangat perlu dilakukan saat ini oleh setiap anggota yang telah terdaftar dan memiliki NPA agar proses migrasi data dari aplikasi yang lama ke aplikasi SIK yang baru segera dapat dilakukan. Jika hal ini tidak segera dilakukan oleh masing-masing anggota, maka dapat dipastikan proses migrasi data dan pengelolaan data keanggotaan PGRI akan mengalami hambatan. Hal tersebut tentu saja akan berdampak pula pada kualitas pelayanan pengurus kepada anggota PGRI.

Pada prinsipnya admin dapat langsung melakukan verifikasi keanggotaan berdasarkan data lama yang masuk, tetapi hal ini akan berdampak pada tidak tersedianya akun pribadi anggota yang dapat digunakan untuk mengecek iuran, mutasi, dan lainnya. Akun pribadi hanya dapat dimiliki dan diakses oleh anggota apabila anggota pemiliki NPA melakukan verifikasi. Jika tidak verifikasi maka otomatis tidak akan memiliki akun yang pintu masuknya email pribadi dan password. Berikut gambaran halaman admin untuk verifikasi keanggotaan yang lama.

Halaman Verifikasi Keanggotaan oleh Admin

Berikut ini kondisi data anggota yang belum verifikasi NPA. Umumnya data yang dimigrasi tidak dilengkapi oleh email. Padahal email adalah syarat masuk ke akun pribadi.

Halaman admin untuk mengecek kelengkapan data anggota

Jadi jelas seorang anggota PGRI pemilik NPA wajib melakukan verifikasi. Konsekuensi lain yang harus diingat oleh anggota adalah apabila admin tetap melakukan verifikasi padahal anggotanya belum melakukan verifikasi mandiri, maka anggota maupun admin tidak dapat lagi melakukan perbaikan data karena akunnya tidak tersedia.

Tolitoli, 3 Maret 2022

Jadikan Menulis Sebuah Passion

Muliadi, M.Pd

Alhamdulillah malam ini akhirnya saya dapat berpartisipasi aktif pada kelas menulis angkatan 19. Semoga ini menjadi awal baik buat saya untuk menjadi penulis aktif. Untuk satu asa menghasilkan buku solo, amiin.

Pada hari ke-1 materi disampaikan oleh Ibu Sri Sugiastuti, M.Pd. Beliau adalah seorang penulis hebat. Sudah banyak buku yang ditulis dan berhasil diterbitkan. Setidaknya sudah 21 judul buku baik karya antologi maupun solo.. 

Selain sebagai penulis, beliau juga seorang editor buku sejak tahun 2019. Pengurus PGRI Surakarta Jawa Tengah, motivator, dan guru blogger. Ditengah berbagai kesibukan beliau selalu menyempatkan diri melakukan hobi sebagai traveling, membaca, dan bersilaturahmi. Mungkin karena hobi tersebut pada hari ke-1 ini bu Sri mau saja menyempatkan diri berbagi ilmu dan pengalaman bersama grup menulis angkatan 19. Malam ini bu Sri menyampaikan materi yang sangat excited yaitu “Jadikan menulis sebagai passion”. 

Setelah mencermati paparan Ibu Sri, saya menilai ini adalah sebuah sajian materi yang sangat komplit untuk dijadikan sebagai pijakan awal dalam membangun kepercayaan diri seorang penulis pemula. Secara sistematis materi yang disampaikan oleh bu Sri terdiri dari 4 bagian penting, yaitu:

  1. Alasan logis mengapa kita harus menulis
  2. Problem atau masalah dalam menulis, khususnya penulis pemula
  3. Bagaimana proses menulis hingga menjadi buku
  4. Bagaimana mempublikasikan atau mempromosikan buku

Terkait dengan alasan mengapa kita harus menulis dan menjadikan menulis sebagai sebuah passion, Ibu Sri mengemukakan ada dua alasan utama yang dapat menjelaskan hal tersebut, yaitu:

  1. Hingga hari ini, profesi penulis adalah salah satu pekerjaan yang sangat dihormati dan dihargai secara sosial. 
  2. Kemampuan menulis dipandang sebagai indikator intelektualitas dan kematangan berpikir.

Menurut Bu Sri banyak orang ingin menjadi penulis, tetapi hanya sedikit yang berhasil. Alasannya bisa macam-macam, antara lain karena merasa tidak berbakat, tidak memiliki ide, tidak memiliki waktu, tidak suka menulis, atau sekedar tidak berani menerima kritik.
Padahal jika sedikit saja kita mau mengubah mindset kita dan bersedia melihat sebuah hambatan sebagai tantangan, maka karya tulis kita bisa terwujud. Tentu tidak ada proses yang mudah. Kita harus mau melihat ke dalam diri sendiri, dan berusaha mengubah hal negatif menjadi positif. 
Untuk sampai pada sebuah karya berbentuk buku, kita harus menjadikan menulis sebagai passion kita. Apabila menulis telah menjadi passion kita, maka menulis menjadi terasa lebih mudah dan menyenangkan. Namun demikian menulis dapat menjadi passion kita, apabila kita mampu mengatasi berbagai kendala menulis.
Kendala menulis umumnya dihadapi oleh setiap penulis, terutama penulis pemula. Kendala atau hambatan menulis biasanya berasal dari faktor internal atau diri penulis sendiri. Menghadapi hal tersebut kita perlu motivasi. Motivasi bisa dari siapa saja dan melalui cara apa saja. 
Mengikuti kelas menulis, membaca buku, menonton, mendengarkan percakapan atau berdiskusi dengan orang lain menjadi cara yang dapat dilakukan untuk memotivasi diri. Tentu motivasi saja tidak cukup, kita juga perlu memiliki etos kerja yang kuat dalam menulis. Dengan kedua hal tersebut barulah menulis dapat menjadi passion kita. 
Kalau menulis sudah menjadi passion, maka Insya Allah kita dapat mengubah kesulitan menjadi tantangan. Kata menjadi kalimat, kalimat menjadi paragraf dan seterusnya. Menulis menjadi mengalir laksana air sungai menuju muaranya. 
Jika kita kesulitan memulai dalam menulis, menurut Bu Sri silahkan awali dengan sebuah kata Why. Mengapa dengan kata why (mengapa)? karena kata why akan memicu banyak gagasan dan ide yang dapat kita tulis dan sampaikan kepada orang lain. Setiap orang pasti punya alasan atau jawaban mengapa dia benci sesuatu, mengapa dia malas menulis, mengapa dia harus sampaikan, mengapa ini atau mengapa itu. Jika alasan dan jawaban tersebut disampaikan secara tertulis, maka pasti akan lahir tulisan-tulisan yang dapat dibaca dan dinikmati oleh orang lain. 
Memang menurut Bu Sri, kata Why lebih filosofis dan berhubungan dengan nilai, visi dan misi hidup kita di dunia. Setiap orang pasti punya motiv mengapa dia harus menulis. Jika motiv atau alasan menulis tersebut kita identifikasi, maka menurut Bu Sri setidaknya ada 5 orientasi alasan, yaitu :

  1. Orientasi Material
  2. Orientasi Eksistensial
  3. Orientasi Personal
  4. Orientasi Sosial
  5. Orientasi Spiritual

Kalau kita ingin tulisan kita menjadi lebih berbobot atau lebih berkualitas, maka perlu kita lanjutkan dengan kata How. Pertanyaan ini lebih bersifat teknis dan jawabannya cenderung mudah dipelajari melalui proses latihan. Seperti kata penulis hebat, menulis adalah sebuah keterampilan. Oleh karena itu, menulis dan terus menulis adalah jalan terbaik untuk meningkatkan kemampuan menulis. Meminjam kata om Jay, menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.
Seiring dengan aktivitas berlatih menulis yang kita lakukan, untuk menjadi penulis yang baik kita juga perlu melakukan beberapa kegiatan berikut:

  1. Read, para penulis hebat mengatakan penulis yang baik pastilah pembaca yang baik. Oleh karena itu untuk menjadi seorang penulis yang baik, kita perlu membaca banyak buku baik yang bersifat general (umum) maupun spesifik (misalnya sesuai dengan background akademik atau interest pribadi kita).
  2. Discuss, diskusi penting agar ide dan gagasan yang muncul dapat lebih berkembang dan teruji. Mendialektikakan bahan bacaan yang kita baca dengan bacaan orang lain atau dengan diri kita sendiri akan membantu kita memahami masalah atau konteks tema bacaan dari perspektif berbeda. Bila diperlukan, ada baiknya kita memiliki mentor menulis yang tepat.
  3. Look and Feel, kita perlu banyak mengamati dan merasakan apa yang terjadi di lingkungan kehidupan sekitar kita. Hal ini dapat dilakukan secara langsung atau melalui media yang kita lihat dan baca (TV, radio, internet, medsos dll)?
  4. Sosialize, kita juga perlu banyak bergaul. Keluasan pergaulan dan area sosialisasi kita dengan orang lain akan mempengaruhi keluasan pandangan kita tentang banyak hal.

Selanjutnya bahan-bahan yang kita peroleh melalui aktivitas di atas, kita olah menjadi sebuah tulisan. Agar bahan-bahan tersebut dapat diolah menjadi tulisan yang menarik, maka menurut bu Sri kita perlu melakukan 5 tahapan berikutnya, yaitu:

  1. Menggali dan Menemukan Gagasan/Ide, Pada tahap ini, penulis melakukan kegiatan penggalian gagasan atau ide. Kegiatan ini bisa dilakukan melalui pengamatan baik terhadap kejadian atau peristiwa yang terjadi, imajinasi, dan kajian pustaka. Untuk mempermudah proses penemuan ide, cara efektif yang dapat digunakan adalah melalui brainstorming. Mengkomunikasi gagasan dan ide kita dengan orang akan membantu kita menemukan gagasan atau ide yang untuk ditulis.  
  2. Menentukan tujuan, Genre dan segmen pembaca. Setelah menentukan gagasan/ide, penulis perlu menentukan tujuan menulis, genre yang diikuti serta target segmen pembaca. Sasaran pembaca akan menjadi bahan pertimbangan penting dalam menentukan warna tulisan. Selain itu, kita harus memastikan bahwa tulisan yang kita hasilkan akan marketable artinya disukai oleh pasar.
  3. Menentukan topik. Penentuan topik dilakukan setelah penulis menetapkan untuk apa menulis, genre apa yang dipilih dan siapa sasaran pembacanya. Misalnya, tujuan menulis untuk memberikan informasi yang benar tentang kesehatan. Genrenya tulisan populer. Jika sasarannya adalah orang tua (manula), maka penulis bisa menentukan tulisan misalnya dengan topik “Hidup sehat di usia senja”.
  4. Membuat Outline. Outline merupakan bentuk kerangka tulisan, biasanya dalam bentuk daftar isi. Kerangka tersebut menunjukkan gambaran materi yang akan ditulis. Menulis outline cukup dengan garis besarnya saja. Karakteristik outline yang baik memiliki kesederajatan yang logis, kesetaraan struktur, kepaduan, dan penekanan.
  5. Mengumpulkan Bahan Materi/Buku. Penulis wajib membaca banyak buku dan sumber bacaan lain untuk memperkaya perspektif dan referensi. Selain itu agar semakin banyak ide atau gagasan yang dapat dikembangkan. Apabila sudah menemukan topik, maka bahan bacaan yang dikumpulkan sesuaikan dengan topik yang sudah ditentukan.

Setelah ide, topik, dan outline tulisan kita sudah jadi, maka yang harus kita lakukan berikutnya adalah menulis. Bagaimana cara kita menulis? Bu Sri menyarankan untuk penulis pemula sebaiknya lebih fokus pada ketekunan (persistence) dalam proses menulis. Menulis itu harus sabar. Tulislah semampu kita terlebih dahulu. Jangan berfikir harus sempurna, dan jangan terlalu idealis.
Untuk menjaga konsistensi dalam menulis, ada baiknya kita terus memelihara motivasi dalam diri kita. Membayangkan hal-hal ideal tentang tulisan kita dapat menjadi motivasi yang baik pada diri sendiri. Bayangkan jika buku kita best seller kita akan jadi penulis populer, diundang ke berbagai acara, berkesempatan memiliki relasi yang luas, royalti dari buku kita dapat membantu mencukupi kebutuhan hidup, untuk anak-anak atau untuk membantu orang tua kita. Manfaatnya bisa untuk jangka panjang.
Jika anda tidak ingin bersifat materialis, anda boleh memilih sisi spritual untuk menjaga ketekunan dalam menulis. Menulis buku dapat dimaknai sebagai amal shaleh yang tidak pernah terputus sepanjang masih dibaca dan mendatangkan manfaat bagi orang lain. Menulis dapat menjadi ladang amal untuk investasi jangka panjang.
Dari proses menulis yang kita lakukan maka akan lahir sebuah tulisan. Mungkin saja tulisan kita belum sempurna. Namun yang pasti kita sudah menyelesaikan naskah kasar dari buku yang kita tulis (rough draft). Untuk menyempurnakan naska kita hingga menjadi buku yang layak terbit, maka kita perlu melewati tahapan Editing, Rivising, dan Publishing.
Editing atau penyuntingan adalah langkah perbaikan draf naskah berdasarkan pedoman yang berlaku. Pada tahap kita perlu membaca ulang sambil menyempurnakan draf tulisan kita. Kegiatan menyempurnakan draf dapat dilakukan melalui:

  1. Teknik penulisan berdasarkan PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia). Berdasarkan PUEBI tahun 2016, teknik penyuntingan naskah dilakukan berdasarkan: Pemakaian huruf, penulisan kata, pemakaian tanda baca dan penulisan unsur serapan
  2. Sistematika penulisan 
  3. Isi tulisan

Revisi atau revising adalah langkah memperbaiki naskah. Pada tahapan ini hal yang kita lakukan adalah :

  • Mengubah beberapa bagian naskah.
  • Melengkapi naskah. Pada proses ini kita dapat menambahi materi yang diperlukan tapi belum terdapat di dalam naskah, atau menghapus beberapa bagian tulisan yang dianggap tidak perlu. 
  • Mengevaluasi kembali naskah untuk menihilkan kesalahan tulis. 

Selanjutnya adalah publikasi atau publishing. Publikasi adalah langkah mempublikasikan karya/tulisan. Yang kita lakukan pada tahap ini adalah: 

  • Pengiriman naskah. Dalam mengirimkan naskah, penulis perlu mengetahui alur penerbitan agar bisa memilih jalur penerbitan yang sesuai dengan pilihannya. Dalam hal ini, ada dua  jalur penerbitan yang bisa dipilih, yaitu: 1) Major Publishing (penerbit umum) dan 2) Self Publishing (penerbit independen)
  • Pracetak (perwajahan buku, tata letak, ISBN, proof reading). Proses pracetak dilakukan setelah naskah selesai dan sudah dilakukan proses penyuntingan. Proses ini meliputi perwajahan buku (cover), tata letak (layout), pengurusan ISBN (international standard book number). Proses ini melibatkan pihak lain. Penulis bisa meminta bantuan desainer untuk membuat cover buku. Untuk membantu desainer membuat sampul (cover), diperlukan sinopsis. Sinopsis ini memuat judul buku, pengarang, ringkasan isi buku.
  • Pencetakan. Proses cetak merupakan proses akhir dalam penulisan buku. Ada beberapa alternative pencetakan buku, melalui penerbit mayor atau penerbit indie. Produknya juga bisa berbentuk cetak maupun digital. Masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya.
  • Promosi dan distribusi. Buku yang telah tercetak memerlukan proses promosi serta distribusi. Promosi bisa dilakukan melalui media sosial (Facebook, Instagram, WhatsApp, atau yang lainnya). Promosi juga bisa dilakukan melalui resensi buku di media cetak seperti koran, majalah, buletin, selebaran, bedah buku, seminar, talk show atau yang lainnya.

Demikianlah proses menulis buku dari awal hingga produk akhir menjadi sebuah buku yang layak terbit. Semua bermula dari Menulis sebagai sebuah Passion, maka jadikan menulis sebagai passion kita. Wassalam.