Jadikan Menulis Sebuah Passion

Muliadi, M.Pd

Alhamdulillah malam ini akhirnya saya dapat berpartisipasi aktif pada kelas menulis angkatan 19. Semoga ini menjadi awal baik buat saya untuk menjadi penulis aktif. Untuk satu asa menghasilkan buku solo, amiin.

Pada hari ke-1 materi disampaikan oleh Ibu Sri Sugiastuti, M.Pd. Beliau adalah seorang penulis hebat. Sudah banyak buku yang ditulis dan berhasil diterbitkan. Setidaknya sudah 21 judul buku baik karya antologi maupun solo.. 

Selain sebagai penulis, beliau juga seorang editor buku sejak tahun 2019. Pengurus PGRI Surakarta Jawa Tengah, motivator, dan guru blogger. Ditengah berbagai kesibukan beliau selalu menyempatkan diri melakukan hobi sebagai traveling, membaca, dan bersilaturahmi. Mungkin karena hobi tersebut pada hari ke-1 ini bu Sri mau saja menyempatkan diri berbagi ilmu dan pengalaman bersama grup menulis angkatan 19. Malam ini bu Sri menyampaikan materi yang sangat excited yaitu “Jadikan menulis sebagai passion”. 

Setelah mencermati paparan Ibu Sri, saya menilai ini adalah sebuah sajian materi yang sangat komplit untuk dijadikan sebagai pijakan awal dalam membangun kepercayaan diri seorang penulis pemula. Secara sistematis materi yang disampaikan oleh bu Sri terdiri dari 4 bagian penting, yaitu:

  1. Alasan logis mengapa kita harus menulis
  2. Problem atau masalah dalam menulis, khususnya penulis pemula
  3. Bagaimana proses menulis hingga menjadi buku
  4. Bagaimana mempublikasikan atau mempromosikan buku

Terkait dengan alasan mengapa kita harus menulis dan menjadikan menulis sebagai sebuah passion, Ibu Sri mengemukakan ada dua alasan utama yang dapat menjelaskan hal tersebut, yaitu:

  1. Hingga hari ini, profesi penulis adalah salah satu pekerjaan yang sangat dihormati dan dihargai secara sosial. 
  2. Kemampuan menulis dipandang sebagai indikator intelektualitas dan kematangan berpikir.

Menurut Bu Sri banyak orang ingin menjadi penulis, tetapi hanya sedikit yang berhasil. Alasannya bisa macam-macam, antara lain karena merasa tidak berbakat, tidak memiliki ide, tidak memiliki waktu, tidak suka menulis, atau sekedar tidak berani menerima kritik.
Padahal jika sedikit saja kita mau mengubah mindset kita dan bersedia melihat sebuah hambatan sebagai tantangan, maka karya tulis kita bisa terwujud. Tentu tidak ada proses yang mudah. Kita harus mau melihat ke dalam diri sendiri, dan berusaha mengubah hal negatif menjadi positif. 
Untuk sampai pada sebuah karya berbentuk buku, kita harus menjadikan menulis sebagai passion kita. Apabila menulis telah menjadi passion kita, maka menulis menjadi terasa lebih mudah dan menyenangkan. Namun demikian menulis dapat menjadi passion kita, apabila kita mampu mengatasi berbagai kendala menulis.
Kendala menulis umumnya dihadapi oleh setiap penulis, terutama penulis pemula. Kendala atau hambatan menulis biasanya berasal dari faktor internal atau diri penulis sendiri. Menghadapi hal tersebut kita perlu motivasi. Motivasi bisa dari siapa saja dan melalui cara apa saja. 
Mengikuti kelas menulis, membaca buku, menonton, mendengarkan percakapan atau berdiskusi dengan orang lain menjadi cara yang dapat dilakukan untuk memotivasi diri. Tentu motivasi saja tidak cukup, kita juga perlu memiliki etos kerja yang kuat dalam menulis. Dengan kedua hal tersebut barulah menulis dapat menjadi passion kita. 
Kalau menulis sudah menjadi passion, maka Insya Allah kita dapat mengubah kesulitan menjadi tantangan. Kata menjadi kalimat, kalimat menjadi paragraf dan seterusnya. Menulis menjadi mengalir laksana air sungai menuju muaranya. 
Jika kita kesulitan memulai dalam menulis, menurut Bu Sri silahkan awali dengan sebuah kata Why. Mengapa dengan kata why (mengapa)? karena kata why akan memicu banyak gagasan dan ide yang dapat kita tulis dan sampaikan kepada orang lain. Setiap orang pasti punya alasan atau jawaban mengapa dia benci sesuatu, mengapa dia malas menulis, mengapa dia harus sampaikan, mengapa ini atau mengapa itu. Jika alasan dan jawaban tersebut disampaikan secara tertulis, maka pasti akan lahir tulisan-tulisan yang dapat dibaca dan dinikmati oleh orang lain. 
Memang menurut Bu Sri, kata Why lebih filosofis dan berhubungan dengan nilai, visi dan misi hidup kita di dunia. Setiap orang pasti punya motiv mengapa dia harus menulis. Jika motiv atau alasan menulis tersebut kita identifikasi, maka menurut Bu Sri setidaknya ada 5 orientasi alasan, yaitu :

  1. Orientasi Material
  2. Orientasi Eksistensial
  3. Orientasi Personal
  4. Orientasi Sosial
  5. Orientasi Spiritual

Kalau kita ingin tulisan kita menjadi lebih berbobot atau lebih berkualitas, maka perlu kita lanjutkan dengan kata How. Pertanyaan ini lebih bersifat teknis dan jawabannya cenderung mudah dipelajari melalui proses latihan. Seperti kata penulis hebat, menulis adalah sebuah keterampilan. Oleh karena itu, menulis dan terus menulis adalah jalan terbaik untuk meningkatkan kemampuan menulis. Meminjam kata om Jay, menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.
Seiring dengan aktivitas berlatih menulis yang kita lakukan, untuk menjadi penulis yang baik kita juga perlu melakukan beberapa kegiatan berikut:

  1. Read, para penulis hebat mengatakan penulis yang baik pastilah pembaca yang baik. Oleh karena itu untuk menjadi seorang penulis yang baik, kita perlu membaca banyak buku baik yang bersifat general (umum) maupun spesifik (misalnya sesuai dengan background akademik atau interest pribadi kita).
  2. Discuss, diskusi penting agar ide dan gagasan yang muncul dapat lebih berkembang dan teruji. Mendialektikakan bahan bacaan yang kita baca dengan bacaan orang lain atau dengan diri kita sendiri akan membantu kita memahami masalah atau konteks tema bacaan dari perspektif berbeda. Bila diperlukan, ada baiknya kita memiliki mentor menulis yang tepat.
  3. Look and Feel, kita perlu banyak mengamati dan merasakan apa yang terjadi di lingkungan kehidupan sekitar kita. Hal ini dapat dilakukan secara langsung atau melalui media yang kita lihat dan baca (TV, radio, internet, medsos dll)?
  4. Sosialize, kita juga perlu banyak bergaul. Keluasan pergaulan dan area sosialisasi kita dengan orang lain akan mempengaruhi keluasan pandangan kita tentang banyak hal.

Selanjutnya bahan-bahan yang kita peroleh melalui aktivitas di atas, kita olah menjadi sebuah tulisan. Agar bahan-bahan tersebut dapat diolah menjadi tulisan yang menarik, maka menurut bu Sri kita perlu melakukan 5 tahapan berikutnya, yaitu:

  1. Menggali dan Menemukan Gagasan/Ide, Pada tahap ini, penulis melakukan kegiatan penggalian gagasan atau ide. Kegiatan ini bisa dilakukan melalui pengamatan baik terhadap kejadian atau peristiwa yang terjadi, imajinasi, dan kajian pustaka. Untuk mempermudah proses penemuan ide, cara efektif yang dapat digunakan adalah melalui brainstorming. Mengkomunikasi gagasan dan ide kita dengan orang akan membantu kita menemukan gagasan atau ide yang untuk ditulis.  
  2. Menentukan tujuan, Genre dan segmen pembaca. Setelah menentukan gagasan/ide, penulis perlu menentukan tujuan menulis, genre yang diikuti serta target segmen pembaca. Sasaran pembaca akan menjadi bahan pertimbangan penting dalam menentukan warna tulisan. Selain itu, kita harus memastikan bahwa tulisan yang kita hasilkan akan marketable artinya disukai oleh pasar.
  3. Menentukan topik. Penentuan topik dilakukan setelah penulis menetapkan untuk apa menulis, genre apa yang dipilih dan siapa sasaran pembacanya. Misalnya, tujuan menulis untuk memberikan informasi yang benar tentang kesehatan. Genrenya tulisan populer. Jika sasarannya adalah orang tua (manula), maka penulis bisa menentukan tulisan misalnya dengan topik “Hidup sehat di usia senja”.
  4. Membuat Outline. Outline merupakan bentuk kerangka tulisan, biasanya dalam bentuk daftar isi. Kerangka tersebut menunjukkan gambaran materi yang akan ditulis. Menulis outline cukup dengan garis besarnya saja. Karakteristik outline yang baik memiliki kesederajatan yang logis, kesetaraan struktur, kepaduan, dan penekanan.
  5. Mengumpulkan Bahan Materi/Buku. Penulis wajib membaca banyak buku dan sumber bacaan lain untuk memperkaya perspektif dan referensi. Selain itu agar semakin banyak ide atau gagasan yang dapat dikembangkan. Apabila sudah menemukan topik, maka bahan bacaan yang dikumpulkan sesuaikan dengan topik yang sudah ditentukan.

Setelah ide, topik, dan outline tulisan kita sudah jadi, maka yang harus kita lakukan berikutnya adalah menulis. Bagaimana cara kita menulis? Bu Sri menyarankan untuk penulis pemula sebaiknya lebih fokus pada ketekunan (persistence) dalam proses menulis. Menulis itu harus sabar. Tulislah semampu kita terlebih dahulu. Jangan berfikir harus sempurna, dan jangan terlalu idealis.
Untuk menjaga konsistensi dalam menulis, ada baiknya kita terus memelihara motivasi dalam diri kita. Membayangkan hal-hal ideal tentang tulisan kita dapat menjadi motivasi yang baik pada diri sendiri. Bayangkan jika buku kita best seller kita akan jadi penulis populer, diundang ke berbagai acara, berkesempatan memiliki relasi yang luas, royalti dari buku kita dapat membantu mencukupi kebutuhan hidup, untuk anak-anak atau untuk membantu orang tua kita. Manfaatnya bisa untuk jangka panjang.
Jika anda tidak ingin bersifat materialis, anda boleh memilih sisi spritual untuk menjaga ketekunan dalam menulis. Menulis buku dapat dimaknai sebagai amal shaleh yang tidak pernah terputus sepanjang masih dibaca dan mendatangkan manfaat bagi orang lain. Menulis dapat menjadi ladang amal untuk investasi jangka panjang.
Dari proses menulis yang kita lakukan maka akan lahir sebuah tulisan. Mungkin saja tulisan kita belum sempurna. Namun yang pasti kita sudah menyelesaikan naskah kasar dari buku yang kita tulis (rough draft). Untuk menyempurnakan naska kita hingga menjadi buku yang layak terbit, maka kita perlu melewati tahapan Editing, Rivising, dan Publishing.
Editing atau penyuntingan adalah langkah perbaikan draf naskah berdasarkan pedoman yang berlaku. Pada tahap kita perlu membaca ulang sambil menyempurnakan draf tulisan kita. Kegiatan menyempurnakan draf dapat dilakukan melalui:

  1. Teknik penulisan berdasarkan PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia). Berdasarkan PUEBI tahun 2016, teknik penyuntingan naskah dilakukan berdasarkan: Pemakaian huruf, penulisan kata, pemakaian tanda baca dan penulisan unsur serapan
  2. Sistematika penulisan 
  3. Isi tulisan

Revisi atau revising adalah langkah memperbaiki naskah. Pada tahapan ini hal yang kita lakukan adalah :

  • Mengubah beberapa bagian naskah.
  • Melengkapi naskah. Pada proses ini kita dapat menambahi materi yang diperlukan tapi belum terdapat di dalam naskah, atau menghapus beberapa bagian tulisan yang dianggap tidak perlu. 
  • Mengevaluasi kembali naskah untuk menihilkan kesalahan tulis. 

Selanjutnya adalah publikasi atau publishing. Publikasi adalah langkah mempublikasikan karya/tulisan. Yang kita lakukan pada tahap ini adalah: 

  • Pengiriman naskah. Dalam mengirimkan naskah, penulis perlu mengetahui alur penerbitan agar bisa memilih jalur penerbitan yang sesuai dengan pilihannya. Dalam hal ini, ada dua  jalur penerbitan yang bisa dipilih, yaitu: 1) Major Publishing (penerbit umum) dan 2) Self Publishing (penerbit independen)
  • Pracetak (perwajahan buku, tata letak, ISBN, proof reading). Proses pracetak dilakukan setelah naskah selesai dan sudah dilakukan proses penyuntingan. Proses ini meliputi perwajahan buku (cover), tata letak (layout), pengurusan ISBN (international standard book number). Proses ini melibatkan pihak lain. Penulis bisa meminta bantuan desainer untuk membuat cover buku. Untuk membantu desainer membuat sampul (cover), diperlukan sinopsis. Sinopsis ini memuat judul buku, pengarang, ringkasan isi buku.
  • Pencetakan. Proses cetak merupakan proses akhir dalam penulisan buku. Ada beberapa alternative pencetakan buku, melalui penerbit mayor atau penerbit indie. Produknya juga bisa berbentuk cetak maupun digital. Masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya.
  • Promosi dan distribusi. Buku yang telah tercetak memerlukan proses promosi serta distribusi. Promosi bisa dilakukan melalui media sosial (Facebook, Instagram, WhatsApp, atau yang lainnya). Promosi juga bisa dilakukan melalui resensi buku di media cetak seperti koran, majalah, buletin, selebaran, bedah buku, seminar, talk show atau yang lainnya.

Demikianlah proses menulis buku dari awal hingga produk akhir menjadi sebuah buku yang layak terbit. Semua bermula dari Menulis sebagai sebuah Passion, maka jadikan menulis sebagai passion kita. Wassalam.

Menuju Konkerprov Sulteng Seri II

Setelah mengisi bensin kami langsung berangkat. Tidak terlalu laju, kecepatan mobil hanya 40 km per jam. Maklum masih dalam kota. Apalagi waktu sudah memasuki waktu magrib. Sambil jalan kami juga sesekali mengamati setiap masjid yang kami lewati apakah sudah masuk waktu shalat atau belum.

Tepat didepan kuburan para bangsawan Tolitoli kami berhenti. Kebetulan didepan kuburan itu ada masjid. Jadi kami masjid bukan ke kuburan ..he..he. Disana kami singga shalat magrib. Setelah berwudhu kami gunakan masker, kemudian bergabung dengan jamaah lainnya. Ada jaga jarak sedikit, tapi tidak 1 meter. Maklum inikan shalat bukan senam pagi. Tapi meski demikian tetap jaga protokol kesehatan. Jangan sampai kita atau keluarga kita yang menjadi korban.

Beberapa hari lalu, saya juga pernah ke tempat ini. Waktu itu saya bersama om Deny turut mengantar almarhumah ibunda bapak wakil Bupati Tolitoli. Hj Nuraeni Bantilan, beliau meninggal di Surabaya dan dikuburkan di Tolitoli.

Sedikit saya ceritakan bagaimana suasana duka saat itu. Almarhumah dikebumikan pada hari Jum’at. Karena bagian dari keluarga bangsawan maka prosesi pemakaman dilakukan secara adat.

Setelah dishalatkan dimasjid agung Toli-toli, almarhumah ditandu menggunakan potongan kayu bundar sebesar betis orang dewasa. Tandu dirancang secara khusus untuk mengusung keranda.

Seluruh permukaan keranda ditutupi dengan kain kuning keemasan. Warna ini memang menjadi warna khas suku Tolitoli, terutama pada acara-acara adat.

Diatas tandu berdiri dua orang anggota keluarga raja. Tandu dipikul oleh sejumlah orang berpakaian serba kuning. Ada juga yang hanya menggunakan ikat kepala kuning.

Luar biasa, tandu yang cukup berat itu, dipikul secara bergantian dari Madjid agung ke pemakaman di desa Buntuna. Letak pemakaman para bangsawan ini tepat berada didepan masjid tempat saya magrib itu.

Jarak antara masjid agung dan tempat yang dituju itu kira kira lebih 8 km. Naik motor saja saya sampai kehausan. Pembaca bisa bayangkan bagaimana kondisi para pemikul tandu. Tapi mungkin karena rasa hormat dan empati atas duka keluarga raja, maka panasnya terik matahari saat itu tidak dihiraukan. Ribuan orang mengantar almarhumah saat itu, termasuk saya. Semoga Almarhumah mendapat tempat yang layak disisi-Nya. Amiin

Begitulah ceritanya, nah kembali ke perjalanan kami. Setelah shalat jamak qasar kami melanjutkan perjalanan. Keadaan sudah gelap dan hujan rintik-rintik masih saja turun. Setelah tiba di pangi, kami singga sebentar di sebuah toko makanan ringan. Kami membeli kerupuk dan beberapa minuman ringan sebagai teman perjalanan.

Saya memilih 1 botol C1000. Kata orang dimusim pandemi begini baik jika kita banyak minum vitamin C. Saya juga mengambil satu botol air mineral. Setelah semua cukup kami melanjutkan perjalanan.

Perjalanan mulai menanjak. Tanjakan pangi yang suda banyak memakan korban harus kami hadapi. Alhamdulillah perlahan namun pasti setiap level tanjakan bisa kami lalui dengan aman dan lancar. Tanjakan pangi nampak nya sedang mengalami perbaikan. Beberapa titik yang biasanya cukup mengganggu perjalanan, kini sudah cukup baik dilewati.

Sekitar pukul 09 kami sudah sampai di Basidondo. Disini kami istirahat sejenak sambil menikmati ikan bakar pesanan pak ketua. Saya lupa nama rumah makannya.

Nanti kita lanjutkan lagi ya! Capek juga mengetik.

Menuju Konkerprov Sulteng seri II

Muliadi, S.Pd, M.Pd

Setelah mengisi bensin kami langsung berangkat. Tidak terlalu laju, kecepatan mobil hanya 40 km per jam. Maklum masih dalam kota. Apalagi waktu sudah memasuki waktu magrib. Sambil jalan kami juga sesekali mengamati setiap masjid yang kami lewati apakah sudah masuk waktu shalat atau belum.

Tepat didepan kuburan para bangsawan Tolitoli kami berhenti. Kebetulan didepan kuburan itu ada masjid. Jadi kami ke masjid bukan ke kuburan ..he..he. Disana kami singga shalat magrib. Setelah berwudhu kami gunakan masker, kemudian bergabung dengan jamaah lainnya. Ada jaga jarak sedikit, tapi tidak 1 meter. Maklum inikan shalat bukan senam pagi. Tapi meski demikian tetap jaga protokol kesehatan. Jangan sampai kita atau keluarga kita yang menjadi korban.

Beberapa hari lalu, saya juga pernah ke tempat ini. Waktu itu saya bersama om Deny turut mengantar almarhumah ibunda bapak wakil Bupati Tolitoli. Hj Nuraeni Bantilan, beliau meninggal di Surabaya dan dikuburkan di Tolitoli.

Sedikit saya ceritakan bagaimana suasana duka saat itu. Almarhumah dikebumikan pada hari Jum’at. Karena bagian dari keluarga bangsawan maka prosesi pemakaman dilakukan secara adat.

Setelah dishalatkan dimasjid agung Toli-toli, almarhumah ditandu menggunakan potongan kayu bundar sebesar betis orang dewasa. Tandu dirancang secara khusus untuk mengusung keranda.

Seluruh permukaan keranda ditutupi dengan kain kuning keemasan. Warna ini memang menjadi warna khas suku Tolitoli, terutama pada acara-acara adat.

Diatas tandu berdiri dua orang anggota keluarga raja. Tandu dipikul oleh sejumlah orang berpakaian serba kuning. Ada juga yang hanya menggunakan ikat kepala kuning.

Luar biasa, tandu yang cukup berat itu, dipikul secara bergantian dari Madjid agung ke pemakaman di desa Buntuna. Letak pemakaman para bangsawan ini tepat berada didepan masjid tempat saya magrib itu.

Jarak antara masjid agung dan tempat yang dituju itu kira kira lebih 8 km. Naik motor saja saya sampai kehausan. Pembaca bisa bayangkan bagaimana kondisi para pemikul tandu. Tapi mungkin karena rasa hormat dan empati atas duka keluarga raja, maka panasnya terik matahari saat itu tidak dihiraukan. Ribuan orang mengantar almarhumah saat itu, termasuk saya. Semoga Almarhumah mendapat tempat yang layak disisi-Nya. Amiin

Begitulah ceritanya, nah kembali ke perjalanan kami. Setelah shalat jamak qasar kami melanjutkan perjalanan. Keadaan sudah gelap dan hujan rintik-rintik masih saja turun. Setelah tiba di pangi, kami singga sebentar di sebuah toko makanan ringan. Kami membeli kerupuk dan beberapa minuman ringan sebagai teman perjalanan.

Saya memilih 1 botol C1000. Kata orang dimusim pandemi begini baik jika kita banyak minum vitamin C. Saya juga mengambil satu botol air mineral. Setelah semua cukup kami melanjutkan perjalanan.

Perjalanan mulai menanjak. Tanjakan pangi yang suda banyak memakan korban harus kami hadapi. Alhamdulillah perlahan namun pasti setiap level tanjakan bisa kami lalui dengan aman dan lancar. Tanjakan pangi nampak nya sedang mengalami perbaikan. Beberapa titik yang biasanya cukup mengganggu perjalanan, kini sudah cukup baik dilewati.

Sekitar pukul 09 kami sudah sampai di Basidondo. Disini kami istirahat sejenak sambil menikmati ikan bakar pesanan pak ketua. Saya lupa nama rumah makannya.

Nanti kita lanjutkan lagi ya! Capek juga mengetik.

Menuju Konkerprov Sulawesi Tengah

Muliadi, S.Pd, M.Pd

Alhamdulillah, akhirnya kami tim PGRI Toli-toli sampai dengan selamat di Palu untuk mengikuti konferensi kerja provinsi PGRI Sulawesi Tengah.

Kami berangkat dari Tolitoli kemarin, hari Kamis tanggal 8 Juli 2021. Kami berangkat menjelang magrib, sekitar jam 15.28 WITA. Rencana awal tim yang berangkat 3 personil, ini sesuai undangan yaitu Ketua, sekretaris, dan bendahara. Tetapi menjelang keberangkatan ibu bendahara tidak jadi berangkat. Maka jadilah tim yang berangkat 2 personil saya dan ketua. Sebagai pengganti joki diperjalanan saya mengajak Adit. Adit ini anak tertua saya.

Sebenarnya kami berencana berangkat pagi dengan tujuan biar perjalanan bisa lebih rileks dan tidak terlalu capek. Maklum umur tidak muda lagi, jadi biar orang kate driver pengalaman, tapi fisik sudah tidak mendukung..he..he..

Tapi rencana memang sebuah ikhtiar, nyatanya kami berangkatnya justru menjelang magrib.

Keberadaan saya ke palu sebenarnya punya dua tujuan, satu untuk mengikuti konkerprov satunya lagi untuk mengantarkan laporan tutorial UT. Maklum selain guru, saya juga nyambi sebagai Tutor UPBJJ Palu. Karena masa tutorial sudah berakhir maka tanggung jawabnya tutor membuat laporan.

Gara-gara menyiapkan laporan ini rencana berangkat tertunda. Akhirnya waktu pagi yang direncanakan untuk berangkat hanya habis untuk menyiapkan laporan. Printer yang kurang mendukung membuat pekerjaan menjadi lambat..

Tidak terasa waktu Zuhur lewat, setelah shalat Zuhur ketua menelpon menanyakan kesiapan berangkat. Tapi karena laporan belum tuntas saya bilang sore saja kita berangkat. Kebetulan sore itu hujan turun sangat lebat. Derasnya hujan membuat sebagian tempat di kota Toli-toli tergenang air. Syukur tidak terjadi banjir.

Setelah ashar sebenarnya kami sudah bisa berangkat. Tapi yang namanya urusan kadang datangnya tidak tertuga. Akhirnya ba’da ashar kami belum juga bisa berangkat. Alhasil setelah beberapa urusan rampung kami akhirnya berangkat.

Pada waktu kami berangkat cuaca masih kurang bersahabat. Meski sudah sedikit reda, tapi awan pekat masih menggelayut di langit Tolitoli. Ada sedikit khawatir sebenarnya, yang terpikir waktu itu beratnya medan yang harus dilalui yaitu pasir putih.

Mungkin bagi pembaca yang belum mengenal medan ini akan berpikir ini hamparan pasir putih yang indah. Tapi jangan salah, pasir putih adalah sebuah jalur perjalanan dengan medan terjal dan tinggi selain itu kondisi jalan sempit. Bagi pengemudi yang kurang berpengalaman biasanya tidak akan memilih jalur ini. Apalagi jika hujan deras dan cuasa buruk. Selain kabut yang menghalangi pandangan, juga longsor dan pohon tumbang yang bisa membahayakan pengendara.

Perlahan namun pasti mobil Rush putih yang kami kendarai bergerak membelah hujan yang mulai mereda. Saya lihat indikator bensin menunjukkan posisi 2 batang. Saya memutar mobil menuju pom bensin yang ada ditengah kota. Maunya sih cepat, taunya kami malah terjebak antrian bensin. Sebenarnya tidak panjang, hanya ada 5 mobil didepan saya. Tapi rupanya aturan pengisian bensin cukup ribet. Nomor hp dan nomor plat mobil harus dicatat secara digital melalui hendphon yang bisa mengeluarkan print out. Kira-kira setiap kendaraan sekitar 15 menit. Bisa dibayangkan berapa lama kami dalam antrian.

Ada rasa kesal memang, tapi kami juga bersyukur karena bisa isi mobil dengan bensin yang harganya lebih murah dari jenis BBM lain. Cukup dengan uang 237.000 tangki mobil Rush putih saya sudah full.

Maaf saya harus keluar ruangan dulu, nanti kita lanjutkan lagi ya!

Turut Berduka

Innalillahi wainna ilaihi rajiun, Keluarga Besar PGRI Tolitoli mengucapkan duka mendalam atas meninggalnya Almarhumah Hj. Nuraeni Bantilan Ibunda Bapak Wakil Bupati Tolitoli pada hari ini, kamis 01 Juli 2021. Teriring doa semoga Almarhumah senantiasa mendapat pengampunan dari Allah swt dan seluruh amal kebaikannya diterima disisi Allah swt. Semoga keluarga yang berduka senantiasa diberikan kesabaran dalam menerima cobaan ini.

اَللهُمَّ اغْفِرْلَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَاَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرْدِ وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلاَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ وَاَبْدِلْهُ دَارًاخَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَاَهْلاً خَيْرًا مِنْ اَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَاَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَاَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَفِتْنَتِهِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ

Dear Sobatku PGRI

APA kabar? Semoga kabarmu baik juga kabar orang-orang yang kamu kasihi. Jika kabarmu baik dan orang-orang yang kamu kasihi juga baik kabarnya, bersyukurlah.

Ungkapan syukur itu bisa diwujudkan dalam upaya tetap disiplin dan lebih gigih menjaga kesehatan sebagai pijakan kabar baik kita.

Hari-hari ini, kabar baik tampaknya jauh dari pengalaman harian banyak orang, juga orang-orang yang mereka kasihi.

Di grup percakapan dan di media sosial, silih berganti kabar duka datang dari orang-orang yang kita kenal. Permohonan doa dan dukungan disampaikan untuk orang-orang yang dekat dengan kita.

Tidak lama kemudian, kabar duka dari pemohon doa disampaikan. Teman atau saudara yang sakit tidak tertolong lagi karena tidak tertangani.

Hening grup percakapan selain berurutan saling memberi ucapan duka dan doa untuk menguatkan dari kejauhan.

Beberapa teman saya menjauhi situasi yang menekan ini dengan menonaktifkan sementara grup percakapan dan juga media sosial. Mengambil jeda dan jarak dilakukan dengan sadar.

Dengan jeda dan jarak, apakah fakta tidak lagi ada?

Fakta tidak berubah dan tetap nyata adanya. Namun, fakta yang terjadi dan ada di luar kendalinya tidak menjadi beban pikiran. Fakta itu tidak sempat mampir ke pikiran apalagi menggangu jiwa.

Hari-hari teman saya menjadi lebih tenang. Mekanisme di dalam diri yang dipilih dengan sadar membantunya menghadapi situasi yang tidak mudah ini.

Bagaimana mekanisme dalam dirimu untuk menghadapi situasi tidak mudah hari-hari ini?

Alarm tanda bahaya sudah dibunyikan seminggu terakhir oleh banyak pihak yang memiliki otoritas. Makin kerap bunyi ambulans terdengar di sekitar kita.

Wisma Atlet di Kemayoran yang menjadi rumah sakit darurat Covid-19 mulai kewalahan. Pasien yang sudah membaik kondisinya meskipun masih positif, dipulangkan.

Ambulans bergantian datang tidak habis-habis. Wisma Atlet tidak mampu lagi menampung pasien kecuali pasien yang membaik kondisinya meskipun masih positif dipulangkan.

Wisma Atlet adalah gambaran. Di banyak tempat di Pulau Jawa, kondisi serupa kita dengar.

Untuk permintaan tolong mencarikan tempat perawatan intensif di rumah sakit, kita warga masyarakat pada umumnya tidak berdaya. Aparat negara demikian pula, dalam posisi tidak berdaya.

Karena itu, jika kabar kita baik, sehat begitu juga orang-orang yang kita kasihi bersyukurlah. Ungkapan syukur itu bisa dilakukan dengan tetap menjaga kesehatan agar tidak menambah beban rumah sakit.

Gambaran kondisi genting ini tergambar dari kisah Agus Rahmanto. Wakil Kepala Polres Jakarta Selatan ini akhirnya menangis lantaran gagal menyelamatkan nyawa warga yang tidak berdaya karena Covid-19.

Kamis, 24 Juni 2021, Agus hendak mengevakuasi Budi (59), warga Jagakarsa, Jakarta Selatan. Dengan masker dobel, pelindung mata dan keberanian, Agus dan tiga orang lain memberanikan diri menggotong dan mengeluarkan Budi dari rumahnya.

Agus tidak mengenal Budi yang telat mendapat pertolongan. Saat dievakuasi, Budi yang lemah kondisinya megenakan baju dan sarung saja. Ambulans yang dinanti-nantikan untuk mengevakuasi Budi ke rumah sakit tidak kunjung tiba.

Akhirnya ambulans tiba di kawasan yang separuh warganya terpapar Covid-19. Namun, sopir ambulans bertanya-tanya hendak di bawa ke mana dan akhirnya tidak jalan-jalan juga.

Agus berinisiatif memakai mobil Kijang milik warga yang dipinjamkan untuk membawa Budi. Budi dimasukkan ke dalam mobil Kijang lalu Agus mengemudikannya ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pasar Minggu sambil berkoordinasi.

Namun, upaya Agus dan beberapa orang lain tidak membawa hasil yang diharapkan. Budi tidak tertolong saat sampai di RSUD Pasar Minggu.  

Tubuh Budi yang sebelumya lemas terbujur kaku saat diturunkan dari mobil Kijang di lobi RSUD Pasar Minggu. Agus menangis di trotoar RSUD mendapati kenyataan ini.

Kisah Agus dan Budi adalah gambaran kita hari-hari ini. Upaya kita kerap berhadapan dengan keterbatasan dan ketidakberdayaan menghadapi realita.

Kita mendengar keluarga, saudara, teman, kawan atau kenalan meminta pertolongan dan bantuan. Sejumlah upaya kita lakukan. Banyak yang tidak bisa berbuat apa-apa juga. Ujung kisah mengharapkan keajaiban atau mengikhlaskan.

Pilu dan menyayat-nyayat perasaan. Kondisi memang sangat tidak memungkinkan. Karena itu, buat kamu yang masih sehat dan orang-orang yang kamu kasihi masih sehat, mari bersama-sama melandaikan kurva penularan.

Rumah sakit dan tenaga medis yang serba terbatas di benteng terkahir pertahanan perlu kita perkuat tidak justru membuat mereka makin kewalahan. Kondisi buruk yang menyesakkan ini jangan sampai tidak berkesudahan.

Minggu lalu, dua rekor berturut-turut terjadi untuk penambahan kasus Covid-19 di Indonesia. Minggu (27/6/2021), dilaporkan ada 21.342 kasus atau naik 247 kasus dari Sabtu (26/6/2021) sebanyak 21.095.

Total kasus Covid-19 yang dilaporkan hingga Minggu ini mencapai 2.115.304 orang terhitung sejak kasus pertama diumumkan pada 2 Maret 2020 lalu.

Varian Delta yang pertama kali teridentifikasi di India menjadi salah satu penyebab lonjakan kasus di Indonesia. Varian Delta didapati sangat mudah menular dan lebih berbahaya dibandingkan varian lainnya.

Kepala petugas Kesehatan Queensland, dr Jeannete Young menyebut, varian Delta ini dapat menular melalui kontak dengan durasi sekitar 5 hingga 10 detik saja.

Mari kita mengenali gejalanya agar kita lebih waspada dan tahu harus berbuat apa di tengah keterbatasan fasilitas kesehatan saat ini.

Mereka yang terpapar varian Delta memiliki beberapa gejala umum seperti sakit perut, selera makan hilang, mual, nyeri sendi, gangguan pendengaran, sakit kepala, sakit tenggorokan, demam.

Berbeda dengan yang kita ketahui sebelumnya, batuk dan kehilangan penciuman merupakan gejala awal yang jarang terjadi untuk mereka yang terpapar varian Delta.

Dengan menerapkan disiplin protokol kesehatan, upaya kita untuk melandaikan kurva jika mampu adalah meminimalkan mobilitas dan aktivitas di luar rumah.

Setidaknya ada enam tempat yang perlu dihindari agar tidak memasukkan kita dalam bahaya itu. Hindari kedai tempat makan dan minum, gedung konser dan tempat ibadah, transportasi umum, pasar, sekolah dan tempat kerja atau kantor.

Sambil kita berupaya disipilin dengan protokol kesehatan, kita dorong dan pastikan orang-orang di sekitar kita untuk mendapatkan vaksin saat siap dan tersedia. Jangan ditunda-tunda jika kesempatannya terbuka.

Kabar baik untuk vaksinasi adalah kemampuan tenaga medis kita melakukan vaksinasi lebih dari satu juta dalam sehari.

Di saat rekor penambahan kasus positif Covid-19 terjadi, pada Sabtu (26/6/2021), vaksinasi Covid-19 di Indonesia menembus 1,3 juta orang.

Target yang ditetapkan Presiden Joko Widodo soal satu juta vaksinasi Covid-19 per hari tercapai lebih awal dan jadi harapan untuk melawan pandemi.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, per 26 Juni 2021, vaksinasi dosis pertama telah dilakukan pada lebih dari 27 juta orang dan vaksinasi dosis kedua lebih dari 13 juta orang.

Target vaksinasi satu juta per hari dicapai berkat usaha dari berbagai pihak terutama TNI/Polri, pemerintah daerah, BUMN dan pihak swasta yang turut membantu.

Kemenkes menghapus syarat KTP domisili bagi peserta vaksinasi Covid-19. Ketentuan vaksinasi Covid-19 bebas KTP domisili ini berlaku di seluruh pos pelayanan vaksinasi saat vaksinya tersedia.

Kabar baik berikutnya adalah mereka yang belum memiliki KTP alias anak-anak usia 12-17 tahun juga mendapat izin untuk vaksinasi. Seperti kita ketahui, 1 dari 7 kasus positif Covid-19 di Jakarta adalah kasus pada anak-anak.

Pemberian vaksin Sinovac untuk anak usia 12 tahun telah direkomendasikan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Rekomendasi penggunaan vaksin Sinovac untuk anak usia 12-17 tahun tertuang dalam surat BPOM yang dialamatkan kepada PT Bio Farma.

Surat rekomendasi itu dikeluarkan berdasarkan hasil rapat dengan Komite Nasional Penilai Khusus Vaksin Covid-19 yang diselenggarakan pada 26 Juni 2021.

Dalam surat yang dikeluarkan pada 27 Juni 2021 itu, BPOM menuliskan sejumlah pertimbangan hingga akhirnya vaksin itu dapat digunakan untuk anak usia 12-17 tahun.

Presiden Jokowi bersyukur atas izin penggunaan darurat atau emergency use authorization untuk vaksin Sinovac bagi anak usia 12 sampai 17 tahun. Ia minta agar vaksinasi anak-anak usia 12-17 tahun segera dimulai.

Bersamaan dengan itu, Presiden juga minta upaya pencapaian terget angka 1 juta suntikan vaksin per hari konsisten terjadi mulai Juli 2021.

Bersama upaya-upaya baik di tengah situasi yang tidak mudah ini, sediakan dirimu dan ajak orang-orang di sekitarmu untuk vaksin. Segera. Jangan ditunda-tunda saat siap dan vaksinya tersedia

Salam sehat

Mungkinkah Belajar Tatap Muka Dilaksanakan di Tolitoli?

Muliadi, M.Pd

Kebijakan pemerintah dibidang pendidikan ditengah pandemi covid-19 yang belum meredah, nampaknya belum banyak berubah. Proses pembelajaran tatap muka belum akan menjadi pilihan. Analisis ini semakin menguat, ketika pemerintah provinsi Sulawesi Tengah mengeluarkan edaran gubernur nomor : 443/545/dinkes tertanggal 28 Juni 2021 tentang PPKM berbasis mikro.

Harapan untuk melaksanakan pembelajaran normal sebagaimana diharapkan banyak pihak sepertinya belum dapat diwujudkan, terutama untuk wilayah Kabupaten Tolitoli. Hal ini dikuatkan oleh kondisi obyektif perkembangan covid-19 di Kabupaten Tolitoli yang diduga tengah memasuki gelombang kedua. Dari data yang dilansir oleh juru Bicara SATGAS PENANGANAN COVID-19 tanggal 28 Juni 2021 dapat dikatakan Tolitoli tidak berada pada kategori aman., mengingat tingkat perkembangan penderita covid-19 di Tolitoli sedang mengalami trend kenaikan. Melihat fenomena yang kurang baik ini, pesimis rasanya pembelajaran tatap muka normal dapat segera dilaksanakan. Jika dipaksakan, maka lonjakan penularan covid-19 di Kabupaten Tolitoli bisa saja makin tidak terkendali.

Lalu apakah pembelajaran tahun ajaran baru 2021/2022 harus kembali pada pola pembelajaran daring? jika membaca fenomena yang ada sepertinya pola daring belum dapat dilepaskan begitu saja, meskpun sejumlah pihak meragukan efektivitasnya. Andaikan pun pelaksanaan tatap muka tetap dilaksanakan, maka hal ini juga tidak dapat dilakukan secara penuh. Sehingga tepatlah jika pemerintah memberikan alternatif dengan pola pembelajaran tatap muka terbatas. Menurut kemendikbud pola tatap muka terbatas dapat dilakukan dengan ketentuan sbb:

  1. Hanya boleh dua hari seminggu
  2. Hanya boleh 2 jam sehari, dan
  3. Hanya 25% dari jumlah siswa

Permasalahannya kemudian bagaimana mengelola waktu yang terbatas agar tetap optimal dan dapat dimanfaatkan secara efektif untuk mengelola proses pembelajaran. Hal ini menjadi tantangan yang tidak mudah bagi tim pengelola kurikulum. Jika sedikit berandai-andai, misalnya dalam satu kelas ada 36 siswa dengan jumlah mapel sebanyak 14 (contoh SMK). Maka dari ketentuan di atas berarti hanya 9 siswa per kelas yang boleh mengikuti tatap muka selama 2 jam pelajaran. Jika 2 jam pelajaran tersebut distribusikan pada 2 mata pelajaran setiap hari, artinya sehari masing-masing pelajaran hanya memperoleh 1 jam pelajaran. Waktu 1 jam normal tentu tidak cukup jika guru bermaksud memanfaatkannya hanya untuk menjelaskan materi. Jika pendekatan ini yang dipilih, maka kemungkinan efektivitasnya tidak akan tercapai, mengingat tuntutan kurikulum relatif banyak. Belum lagi soal cara mendistribusikan waktu yang terbatas pada semua mata pelajaran (untuk SMK).

Jika kita mencoba menganalisis permasalahan di atas, maka paling tidak terdapat 5 hal yang harus dipikirkan dan dipertimbangkan sebagai solusi terbaik dalam mengelola proses pembelajaran di masa pandemic ini. 4 hal tersebut adalah:

  1. Bagaimana muatan kurikulum (kepadatan materi) yang akan disampaikan
  2. Bagaimana cara mengalokasikan waktu tatap muka kepada setiap mata pelajaran
  3. Apa yang harus dilakukan dengan waktu tatap muka yang terbatas (Menyampaikan materi, melakukan konfirmasi, memberikan penguatan, dll)
  4. Apakah diperlukan pembelajaran daring selain tatap muka
  5. Bagaimana memadukan daring dan luring (blended learning)

Nah, kelima hal diatas sudah semestinya menjadi bahan diskusi untuk menemukan solusi sebelum benar-benar memasuki proses pembelajaran. Rencana yang baik setengah dari keberhasilan, oleh karena itu pimpinan sekolah seharusnya sudah memiliki rencana terbaik untuk melaksanakan proses pembelajaran pada tahun ajaran baru.

Pengalaman terdahulu harusnya menjadi pelajaran bagi kita semua bagaimana menangani proses pembelajaran dimasa pandemi agar lebih baik dari sebelumnya. Bukankah orang bijak mengatakan “pengalaman itu adalah guru yang paling berharga”. Jangan sampai kita terus mengulangi kesalahan yang sama, yang pada akhirnya akan merugikan siswa kita sendiri.

Apapun situasi dan kondisi yang kita hadapi saat ini, patut dijadikan sebagai tantangan (challenge) untuk menguji seberapa besar dedikasi kita pada pendidikan. Kompetensi dan keterampilan kita sebagai guru sampai kapanpun akan terus diuji oleh zaman. Oleh karena itu, kita tidak boleh stagnan, berdiam diri apalagi bersikap masa bodoh. Belajar dan terus belajar adalah jalan menuju solusi atas tantangan pekerjaan kita sebagai guru.

Jika dicermati situasi yang akan dihadapi dalam proses pembelajaran tahun ini masih akan menerapkan pembelajaran daring. Kalaupun ada pembelajaran tatap muka terbatas, hal ini tidak dapat memberikan banyak ruang bagi guru dan siswa untuk menyelesaikan tugas pembelajaran. Oleh karena itu, pembelajaran blended learning sepertinya menjadi strategi yang paling efektif menghadapi situasi saat ini.

Blended learning adalah gabungan pembelajaran daring dan luring. Jika pembelajaran blended learning yang akan dilaksanakan, maka kita tentu harus memiliki kemampuan untuk mengaplikasikan media daring. Mungkin kita selama ini telah memanfaatkan banyak media daring seperti goglemeet, zoom, teams, google classroom, dll. Namun penggunaan media tersebut belum sepenuhnya memberikan kemudahan pada guru dan siswa mengekspresikan proses pembelajaran sehingga terasa seperti di kelas reguler. Beberapa guru tentu berharap dapat memberikan contoh atau menjelaskan dengan cara menulis atau menggambar seperti layaknya dipapan tulis, tetapi hal ini tidak mudah lakukan. Dibutuhkan aplikasi khusus yang dapat digunakan guru untuk menyampaikan materi seperti layaknya di kelas reguler dimana interaksi siswa guru benar-benar dapat diwujudkan.

Nah, agar pembelajaran kita lebih menarik dan mengajar seperti pada ruang kelas reguler, mungkin ada baiknya kita mengikuti workshop pembelajaran daring dengan media interaktif yang powerfull.

Anda dapat mendaftar : melalui link ini: https://forms.gle/6fvkfMTVPPH38pNq7

Apa setelah Konkerkab I PGRI Tolitoli?

Kegiatan monumental Konferensi Kerja Kabupaten PGRI Tolitoli tahun 2021 baru saja berakhir. Konkerkab yang dilaksanakan selama 2 hari dari tanggal 5 s.d 6 juni 2021 ini telah menghasilkan sejumlah keputusan penting berupa rekomendasi dan program kerja PGRI Tolitoli pada periode tahun 2021.

Pertanyaannya sekarang, apa yang harus dilakukan setelah Konkerkab? apakah konkerkab yang demikian seruh, heboh, dan bahkan cenderung emosional itu harus berakhir begitu saja tanpa tindak lanjut? haruskah kita mau terus-menerus terjebak pada eforia konferensi tanpa mampu mewujudkan amanat konferensi secara konsisten? maukah kita disebut hanya rame ketika konferensi dan melempem ketika pasca konferensi?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut sudah saatnya mengubah pola pikir dan prilaku kita sebagai pengurus PGRI jika kita ingin membawah PGRI menjadi organisasi yang kuat dan bermartabat, sebagaimana tema Konkerkab kita yaitu “”Membangun kesadaran dalam berorganisasi untuk mewujudkan PGRI yang kuat bermartabat demi terwujudnya pendidikan yang bermutu”. Tema merupakan spirit yang menggambarkan suasana kebatinan, cita-cita, dan mimpi, jadi sifatnya abstrak. Oleh karena itu tema baru akan bermakna jika tema tersebut dapat diwujudkan secara nyata (konkret) dalam bentuk tindakan, sikap dan prilaku anggotanya.

Dengan demikian menjadi penting untuk menerjemahkan tema kedalam bentuk prilaku nyata. Jika kita cermati tema konkerkab di atas, maka dapat kita lihat beberapa kata kunci yang menjadi trigger , pelatuk atau pemicu motivasi kita, yaitu”” kesadaran berorganisasi, kuat dan bermartabat, dan pendidikan bermutu”.

Kesadaran berorganisasi (Organization Awareness) adalah kemampuan untuk memahami dan mempelajari kekuasaan dalam organisasi sendiri maupun organisasi lain (pelanggan, penyalur, dll.). Termasuk didalamnya kemampuan untuk mengidentifikasi siapa pengambil keputusan yang sebenarnya dan individu yang memiliki pengaruh kuat. Dari pengertian ini dapat maknai bahwa kesadaran berorganisasi adalah kemampuan individu mengenal organisasinya serta fungsi-fungsi didalamnya sehingga individu tersebut dapat memberikan perannya secara optimal sesuai tupoksi yang menjadi tanggungjawabnya.

Dalam hal ini , maka pengurus yang memiliki kesadaran berorganisasi akan selalu berusaha semaksimal mungkin melaksanakan tanggungjawabnya sebagai pengurus dengan berpedoman pada amanah dan hasil konferensi yang telah disepakati. Pengurus yang memiliki kesadaran berorganisasi dapat diidentifikasikan sebagai pengurus yang penuh inisiatif dan kreatifitas. Pengurus yang seperti ini umumnya berpikiran progresif, penuh dedikasi, dan selalu termotivasi untuk segera melaksanakan program dan kegiatan yang menjadi tanggungjawabnya. `

Sementara itu, kuat dan bermartabat adalah kata kunci penting yang merefresentasikan profil PGRI yang dicita-citakan. Kekuatan organisasi menurut Widadi dipengaruhi oleh tingginya solidaritas anggota dan pengelolaan organisasi secara professional, akuntable, dan mandiri serta tata kelola keuangan yang kuat dan mampu memberi dukungan untuk perkembangan tugas secara professional. Nah, berdasarkan asumsi ini maka apa yang telah dilakukan oleh PGRI Tolitoli dengan melaksanakan kegiatan “”diklat penguatan kepemimpinan“” dan “”diklat pengelolaan keuangan“” merupakan bagian dari upaya nyata untuk menjadikan PGRI kuat dan bermartabat. Tetapi sayangnya, pelaksanaannya terkesan kurang optimal sehingga hasilnya juga menjadi kurang maksimal. Menyikap hal ini , PGRI Tolitoli harus terus mendorong agar pelaksanaan kegiatan PGRI pasca konkerkab harus terus berjalan sesuai rencana kerja yang dibuat.

Secara etimologi martabat adalah tingkat harkat kemanusian atau harga diri. Jadi martabat organisasi berarti tingkat harkat atau harga diri organisasi. Menurut Widadi, bahwa kemartabatan organisasi ditentukan oleh professionalitas anggota dan berperilaku sesuai kode etik serta kemampuan organisasi memberi dorongan, dukungan dan fasilitasi terhadap guru-guru dalam meningkatkan profesionalitas dan mentaati kode etik. Dengan demikian, jika PGRI ingin menjadi organisasi yang bermartabat, maka PGRI harus mampu berbuat secara nyata mewujudkan profesionalitas anggota, berprilaku sesuai kode etik, serta mampu memfasilitasi anggotanya (terutama guru) dalam meningkatkan profesionalitasnya. (tunggu lanjutannya)